Ditarik, Obat Bius Bermasalah

186

“Langsung, semuanya kami amankan setelah menerima instruksi itu. Hari berikutnya, ditarik sama salesman Enseval atau pedagang besar farmasi (PBF).”
Budi Santoso
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tidar

MAGELANG–Sejumlah rumah sakit di wilayah eks karesidenan Kedu menarik semua produk obat bius yang isinya diduga tertukar. Penarikan tersebut, setelah adanya surat edaran dan pemberitahuan dari Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Untuk diketahui, obat bius atau anestesi yang ditarik merupakan produk PT Kalbe Farma, menyusul insiden tewasnya dua pasien di RS Siloam Karawaci, Tangerang. Dua pasien tersebut, tewas setelah disuntik dokter menggunakan obat anestesi Buvanest Spinal 0,5% Heavy yang isinya diduga tertukar.

Obat yang dimaksud, diduga tercampur atau tertukar dengan asam Tranexamic atau bahan pembuat obat injeksi merek Kalnex yang digunakan untuk membantu menghentikan pendarahan.

RSUD Tidar Kota Magelang mengklaim sudah menarik obat yang dimaksud, sejak beberapa hari yang lalu. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tidar Kota Magelang, Budi Santoso, menandaskan, obat yang ditarik adalah Buvanest Spinal 0,5% Heavy.
“Langsung, semuanya kami amankan setelah menerima instruksi itu. Hari berikutnya, ditarik sama salesman Enseval atau pedagang besar farmasi (PBF),” kata Budi saat ditemui Jawa Pos Radar Kedu di kantornya, kemarin.

RSUD Tidar, kata Budi, cukup banyak menggunakan produk dari perusahaan yang bermarkas di Jakarta tersebut. Secara tegas, Budi menyampaikan bahwa RSUD Tidar sudah aman.

“Ada pemberitahuan lagi, bahwa sebenarnya persediaan obat anestesi yang bermasalah adalah obat dengan nomor batch 630077 atau Buvanest Spinal 0,5% Heavy 4ml/5 (ABVSA). Nah, kami sampaikan kepada masyarakat bahwa kami tidak punya persediaan dengan nomor batch tersebut,” jelasnya. Mengingat stok obat anestesi berkurang, pihaknya mengaku masih menggunakan obat dengan merek lain.

“Kami prihatin adanya kejadian itu. Padahal Kalbe Farma perusahaan yang sangat besar dan baru sekarang ada kejadian seperti itu. Kami sendiri bingung kok bisa ya,” tanyanya.

Padahal, menurut Budi, obat-obat yang diproduksi sudah memenuhi standar pembuatan obat. Mulai kemasan, pembuatan, kadar maupun bahan yang digunakan, harus lolos uji laboratorium. Sterilisasi juga selalu terjaga dan sebagainya. “Etiketnya juga diperhatikan. Jadi hampir tidak mungkin terjadi kesalahan. Nah kami sendiri tidak tahu penyebabnya apa,” tambahnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang enggan memberikan statemen terkait perihal obat anestesi yang isinya diduga tertukar. insiden itu. Dinkes mengklaim, Puskesmas-Puskesmas yang dinaunginya, tidak ada yang menggunakan jenis obat tersebut.

Terpisah, dari Jakarta dilaporkan bahwa perusahaan farmasi Kalbe Farma telah menarik dua produk obat, termasuk obat anestesi Buvanest Spinal yang isinya diduga tertukar. Dalam suratnya kepada distributor, Kalbe Farma menetapkan hari ini (kemarin) sebagai batas akhir penarikan.

Penggalan surat yang dikirimkan Kalbe ke distributor PT Enseval Putra Megatrading, Tbk berbunyi: sehubungan dengan hal tersebut di atas, mohon bantuan untuk segera menarik produk tersebut dengan batas waktu maksimal penerimaan di gudang Kalbe Farma tanggal 17 Februari 2015.

Surat yang mengatasnamakan Quality Assurance Manager Kalbe Farma Anne Prima Heryanti tersebut menginstruksikan penarikan produk Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4 ml/5 (ABVSA) dengan nomor batch 630077. Laporan penarikan diharapkan masuk paling lambat 17 Februari 2015.

Dalam suratnya, Kalbe Farma menyebut telah melakukan penarikan secara sukarela atas 2 produk obatnya. Selain seluruh batch Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4ml, produk obat Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml dengan batch 629668 dan 630025 juga ditarik.

“Perseroan melakukan hal ini sebagai prosedur pengendalian mutu dan tanggung jawab preventif agar konsumen terlindungi secara maksimal,” tulis Vidjongtius, Corporate Secretary PT Kalbe Farma Tbk dalam surat tersebut.

Penarikan dua obat produksi Kalbe Farma dilakukan menyusul dua kasus pasien meninggal usai pemberian Buvanest Spinal di RS Siloam Karawaci, Tangerang. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menduga isi obat Buvanest yang merupakan obat anestesi, tertukar dengan Asam Tranexamat yang merupakan obat pengental darah.

Sementara itu, Menkes Nila FA Moeloek mengatakan, pihaknya menunggu penjelasan resmi dari pihak Kalbe. “Kami menunggu sampai hasil terakhir yang betul, baru kita berani mengeluarkan. Kalau nggak, nanti kita simpang siur. Kita tidak boleh saling menyalahkan, tidak boleh,” kata Menkes Nila. Menkes Nila menegaskan, pihaknya sudah menarik obat anestesi itu dari peredaran. (put/jpnn/isk)