BARUSARI-Tim penyidik Reskrim Polsek Semarang Barat belum menetapkan debt collector nakal yang menjadi penadah motor hasil rampasan dari konsumen yang telat bayar kredit. Motor berbagai jenis hasil rampasan tersebut, bukannya dikembalikan ke pihak finance, justru ditampung di sebuah rumah di daerah Purwoyoso Ngaliyan. Sedianya motor-motor itu akan dipedotkan untuk kemudian dijual.

Kepolisian menilai, dugaan tindak pidana yang dilakukan para debt collector nakal tersebut dinyatakan semakin menguat. “Kami masih terus mengembangkan penyelidikan. Dugaan pidana jelas ada. Banyak unsur yang mengarah kepada tindak pidana. Namun sampai saat ini, kami belum memperoleh bukti kuat. Sehingga belum ada tersangka,” katanya.

Dugaan pidana itu bisa dari unsur perampasan maupun unsur pencurian. Semuanya dimungkinkan ada. Bahkan diperkuat dengan adanya temuan beberapa STNK di bawah jok motor. “Bisa juga motor hasil pencurian. Semuanya masih kami kembangkan. Pemilik rumah, AM masih berstatus saksi,” kata Kanit Reskrim Polsek Semarang Barat AKP Akhwan, Selasa (17/2). Sejauh ini, juga belum ada masyarakat yang mengecek atau merasa kehilangan motor.

Terpisah, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan bahwa debt collector tidak bisa melakukan penarikan motor secara paksa. Jika ditemukan unsur penarikan paksa justru bisa dikenai pidana.

“Itu tidak bisa. Debt collector menarik motor di jalan harus bisa menunjukkan surat identitas dari perusahaan dari mana, surat tugasnya seperti apa. Menarik paksa tanpa menunjukkan surat tugas dan identitas, sudah masuk unsur pidana. Apalagi hasil tarikan motor diketahui digadaikan, bisa saja masuk penggelapan,” terangnya.

Dikatakannya, semua ketentuan tentang penarikan harus sesuai prosedur dan harus sesuai dengan Undang-Undang Fidusia. “Unsur pidana tersebut bisa dilihat dari konteksnya bagaimana cara debt collector tersebut menarik motor.” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, tim Reskrim Polsek Semarang Barat menyita sebanyak 28 motor berbagai jenis di sebuah rumah seorang debt collector berinisial AW, 26, warga Jalan Purwoyoso, Ngaliyan, Kota Semarang.

Diduga, motor berbagai jenis tersebut hasil rampasan paksa dari jaringan debt collector. Mereka merampas motor secara paksa dari pemilik motor kredit yang nunggak pembayaran. Namun motor hasil rampasan tersebut bukannya diberikan kepada pihak finance, akan tetapi malah justru dipedotkan untuk dijual sendiri.

AW sendiri yang juga berprofesi sebagai debt collector, berperan sebagai penadah motor hasil rampasan dari para debt collector lain. Motor-motor tersebut dititipkan oleh sejumlah debt collector kepada AW dengan sistem gadai. Pada sistem gadai tersebut, AW menentukan tenggat waktu 5 bulan dengan bunga 10 persen per bulan. Kisaran nilai gadai mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 4 juta. Jika dalam kurun waktu 5 bulan tidak diambil, maka motor-motor tersebut dipedotkan oleh AW.
Untuk sementara ini, penyitaan motor tersebut mengacu kepada Undang-Undang Fidusia Nomor 42 tahun 1999 tentang memindahtangankan barang jaminan.

Bagi masyarakat yang merasa kehilangan motor, dipersilakan mengecek di halaman Mapolsek Semarang Barat. Jika bisa menunjukkan surat-surat kelengkapan motor, baik BPKB maupun surat-surat bukti keterangan resmi dari finance, bisa diambil tanpa dipungut biaya. (amu/ida)