Warga Nyerah, Tunggu Bantuan Pemerintah

162

KAJEN-Saluran air Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Desa Curugmuncar Kecamatan Petungkriyono yang terdampak longsoran tebing, tidak bisa ditangani secara darurat oleh warga. Akibatnya, warga setempat terancam tak diterangi listrik hingga April 2015.

Pasalnya, selain kerusakan akibat longsornya tebing sepanjang 35 meter tersebut cukup parah, lokasinya juga sulit dijangkau serta kondisi tebing yang labil dan sangat membahayakan.

Perangkat Desa Curugmuncar, Daslam mengatakan bahwa masyarakat sudah menyerah dalam mengatasi kerusakan saluran PLTMH tersebut. “Biasanya bisa ditanggulangi secara darurat. Tapi kali ini, benar-benar parah. Warga sudah menyerah, angkat tangan,” kata Daslam saat dimintai konfirmasi, Senin (16/2) kemarin.

Kini, imbuhnya, masyarakat hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Jika pemerintah juga melempem, maka ribuan warga di Desa Curugmuncar dan Songgodadi tidak akan menikmati listrik. Diperkirakan hingga April 2015 mendatang. Otomatis, aktivitas warga dua desa terpencil itu juga nyaris lumpuh.

“Sekarang contoh kecilnya saja, kami sudah tidak bisa nge-charge handphone (HP). Bayangkan, kami harus turun ke desa terdekat atau ke kota kecamatan dengan jarak yang jauh hanya untuk ngisi HP. Belum lagi aktivitas lainnya, seperti menyeterika untuk seragam anak-anak sekolah,” tandasnya.

Oleh karena itu, kata Daslam, warga mengharapkan agar pemerintah daerah bisa memperjuangkan masuknya jaringan listrik PLN ke permukiman kedua desa tersebut. “Kalau seperti ini, paling tidak kami baru berani ke lokasi setelah musim hujan. Yakni, sekitar bulan April. Karena kondisi lerengnya sekarang masih sangat labil,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Pekalongan, Bambang Pramukamto mengatakan, perbaikan sementara saluran air yang rusak tersebut belum bisa dilakukan. Sebab, terlalu berbahaya lantaran titik kerusakan berada di tengah lereng curam dengan kondisi tebing yang labil. Sehingga di tengah curah hujan yang masih tinggi, rawan sekali terjadi longsor susulan.

“Di atas saluran yang rusak itu, ada tebing juga setinggi 30 meter. Kemudian di bawahnya, juga tebing curam sedalam kira-kira 25 meter. Medannya memang sangat sulit dan tanahnya labil,” kata Bambang.

Atas kondisi itu, pihaknya akan melakukan kajian ulang, apakah saluran tersebut dipindah ke titik aman atau tetap di lokasi tersebut, dengan konstruksi yang lebih kuat. Selain itu, usulan dari masyarakat terkait jaringan PLN juga dipertimbangkan. Sebab, jaringan PLN terdekat berjarak sekitar 4 km. “Kami masih melakukan kajian. Untuk solusinya, nanti kami cari yang terbaik,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keinginan warga agar daerah permukiman tersebut dialiri jaringan PLN, lantaran kerap terjadi kerusakan jaringan PLTMH akibat longsor saban tahun. Di antaranya pada 2012 dan 2014.

Selama pasokan listrik dari PLTMH tidak ada, warga setempat biasa menggunakan lilin atau lampu teplok berbahan bakar minyak tanah. Padahal, kata Daslam, harga minyak tanah di wilayahnya (pegunungan, red) cukup mahal. Satu liter harganya sekitar Rp 22 ribu. Padahal dalam semalam, paling tidak satu rumah membutuhkan minyak tanah antara 2 liter hingga 3 liter dengan pengeluaran antara Rp 22 ribu hingga Rp 66 ribu.

Di lokasi gelap tersebut, diperkirakan terdapat 1500 jiwa. Yakni Desa Curugmuncar yang dihuni 800 jiwa dan Desa Songgodadi, yang dihuni 700 jiwa.

Camat Petungkriyono Agus Purwanto, mengatakan, PLTMH Curugmuncar itu berfungsi menyuplai listrik di dua desa. Di Desa Curugmuncar terdapat sebanyak 130 kepala keluarga dan di Songgodadi hanya 96 kepala keluarga. “Masyarakat memang mengusulkan agar pasokan listrik dari PLN, bukan lagi PLTMH yang rawan longsor. Usulan itu, sudah kami sampaikan ke Pemkab dan Pemprov Jateng,” jelasnya.

Sedangkan bencana tanah longsor tersebut terjadi pada Jumat (13/2) sekitar pukul 11.30. Saluran air sepanjang 21 meter rusak sehingga turbin PLTMH lumpuh. Hal itu berakibat listrik di dua desa padam. (hil/ida)