DISEGEL : Anggota Satpol PP Kabupaten Semarang menyegel ruang karaoke SAS Resto dan Café di Jalan A Yani Ungaran, yang tidak berizin, Senin (16/2) kemarin. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DISEGEL : Anggota Satpol PP Kabupaten Semarang menyegel ruang karaoke SAS Resto dan Café di Jalan A Yani Ungaran, yang tidak berizin, Senin (16/2) kemarin. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DISEGEL : Anggota Satpol PP Kabupaten Semarang menyegel ruang karaoke SAS Resto dan Café di Jalan A Yani Ungaran, yang tidak berizin, Senin (16/2) kemarin. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Dinilai melanggar aturan perizinan dan ketertiban umum, SAS Resto dan Cafe di Jalan A Yani, Ungaran, Senin (16/2) kemarin disegel petugas Satpol PP Kabupaten Semarang. Penutupan SAS tersebut dilakukan karena membuka room karaoke. Selain itu, SAS berjarak sekitar 50 meter dari Rumah Dinas Bupati Semarang dan Masjid Agung Ungaran tersebut.

Kepala Satpol PP, Muh Risun mengatakan bahwa Pemkab Semarang hanya mengeluarkan izin untuk restoran. Namun perkembangannya, SAS disalahgunakan dengan membuka usaha karaoke. “Tentu melanggar aturan karena tidak diizinkan. Selain itu, banyak dikeluhkan masyarakat,” tandasnya.

Satpol PP sudah melayangkan surat teguran kepada manajemen SAS Resto & Cafe sebanyak tiga kali sejak November 2014 lalu. Namun pihak pengusaha tidak menanggapi sehingga dilakukan penyegelan. “Sudah kami beri peringatan sampai tiga kali, belum juga melaksanakan penutupan. Padahal mereka melanggar dua Perda, perizinan dan ketertiban umum. Akhirnya hari ini dilakukan penutupan tempat karaoke. Untuk restonya silahkan saja buka,” tutur Risun.

Risun menambahkan, jika karaoke dibiarkan beroperasi tentu akan mengganggu lingkungan dan meresahkan masyarakat. Sebab keberadaan SAS berdekatan dengan perkantoran pemerintah termasuk Rumah Dinas Bupati Semarang dan tidak jauh dari Masjid Agung Ungaran serta sekolah dasar. “SAS memiliki 12 ruang karaoke, dengan tarif berdasarkan besar kecilnya ruangan. Keberadaannya yang dekat dengan kantor pemerintahan, masjid dan sekolah tentu sangat menganggu,” kata Risun.

Sementara itu, Manajer SAS, David, mengatakan bahwa pihaknya hanya bisa pasrah dengan keadaan. Sebenarnya David berharap mendapatkan izin untuk beroperasi, karena banyak karyawan yang bergantung dari operasional SAS. David juga mempertanyakan di dekat SAS juga ada restoran sejenis yang membuka fasilitas karaoke. “Ada 20 orang karyawan kami, jika ditutup mau dikemanakan mereka,” kilah David. (tyo/ida)