DADAKAN: Kepala Bapermades Jateng Tavip Supriyanto saat menyerahkan hadiah kepada para pegawainya yang terpilih menjadi pemenang dalam lomba peragaan busana adat kerja Jawa Tengah. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
DADAKAN: Kepala Bapermades Jateng Tavip Supriyanto saat menyerahkan hadiah kepada para pegawainya yang terpilih menjadi pemenang dalam lomba peragaan busana adat kerja Jawa Tengah. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
DADAKAN: Kepala Bapermades Jateng Tavip Supriyanto saat menyerahkan hadiah kepada para pegawainya yang terpilih menjadi pemenang dalam lomba peragaan busana adat kerja Jawa Tengah. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Aturan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng yang memberlakukan seluruh pegawainya mengenakan pakaian adat Jawa Tengah, Senin (16/2) kemarin, ternyata menghadirkan hal-hal lucu dan menarik. Lantaran kali pertama dilaksanakan, tidak sedikit dari mereka yang mengenakan kostum ala kadarnya. Apalagi ketika tiba-tiba dilakukan penilaian yang tentu membuat mereka sedikit terkejut.

Seperti yang dilakukan di Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermades) Provinsi Jawa Tengah. Setelah melakukan apel pagi sebagaimana biasanya, kegiatan dilanjutkan dengan lomba peragaan busana kerja adat Jateng. Uniknya, mereka tidak tahu sebelumnya, jika kegiatan itu wajib diikuti seluruh pegawai tanpa ada pengecualian.

”Ini merupakan surprise atas inisiatif sendiri dibantu dengan panitia kecil. Jika sebelumnya telah kami beritahukan, tentu mereka akan bersiap-siap terlebih dahulu,” ungkap Kepala Bapermades Jateng Tavip Supriyanto kepada Radar Semarang.

Meski terkesan dadakan, lanjut Tavip, lomba ini dilakukan secara profesional. Ia sengaja mengundang dewan juri yang berkompeten di bidangnya. Seperti Amandar Paes, penasihat DPD Himpunan Perias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Provinsi Jawa Tengah, Diah Listyarini Ketua Program Studi Tata Busana AKS Ibu Kartini Semarang, dan Nita Prasetyo, pemilik Ayu Prasanti Wedding Galery. ”Dari sekitar 97 pegawai yang mengikuti, diambil tiga pemenang putra dan tiga pemenang putri,” imbuhnya.

Tavip menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari kebijakan Gubenur Jawa Tengah yang mewajibkan pemakaian busana adat kerja Jateng setiap tanggal 15 per bulannya. Menurut dia, kebijakan ini sangat bagus untuk melestarikan adat dan budaya Jawa Tengah sehingga ke depannya tidak punah. ”Pengembangan dan pelestarian adat istiadat dan budaya harus dilakukan sewaktu-waktu dan setiap saat,” tegasnya.

Lantaran diberitahukan secara mendadak, banyak para pegawai yang kemudian merasa terkejut. Pasalnya, mereka tidak menyangka jika ternyata apa yang mereka kenakan dinilai oleh dewan juri. ”Tiba-tiba saja ada pengarahan tentang lomba. Tahu gitu, kami persiapan dulu sejak dari rumah,” ujar Monica, salah satu peserta yang mengaku tetap antusias mengikuti.

Sementara itu, salah satu dewan juri, Amandar mengungkapkan bahwa lomba seperti ini merupakan upaya kreatif dalam rangka mengampanyekan budaya Jawa di tengah-tengah aktivitas kerja. Menurut dia, busana adat kerja Jawa berbeda dengan busana adat Jawa pada umumnya. Busana adat kerja Jawa adalah busana adat yang pemakaiannya praktis karena digunakan untuk melayani masyarakat.

”Untuk pria, tidak harus mengenakan keris tetapi cukup baju beskap landung. Sementara untuk busana wanita baju kebaya dengan lengan 3/4 lebih praktis dibandingkan dengan lainnya,” bebernya seraya menegaskan unsur penilaian dari kerapian, keserasian, dan juga keluwesan.

Amandar berharap ke depannya perlu dirumuskan melibatkan para pakar terkait desain seragam pakaian adat kerja sehingga seluruh jajaran SKPD dapat menerima kebijakan tersebut dengan suka cita dan tidak ada unsur paksaan. ”Saya melihat masih banyak (pegawai) yang mengenakan busana sorjan dari DI Jogjakarta. Tentu ini sangat tidak relevan,” pungkasnya. (fai/ida/ce1)