Bongkar Tempat Penjemuran Bulu Ayam

206
BONGKAR : Aparat gabungan Satpol PP dan warga membakar bulu itik di Desa Ngemplik, Kecamatan Karanganyar, dalam operasi yustisi, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
BONGKAR : Aparat gabungan Satpol PP dan warga membakar bulu itik di Desa Ngemplik, Kecamatan Karanganyar, dalam operasi yustisi, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
BONGKAR : Aparat gabungan Satpol PP dan warga membakar bulu itik di Desa Ngemplik, Kecamatan Karanganyar, dalam operasi yustisi, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Aparat gabungan yang tediri dari Satpol PP, Polri/TNI , pelajar dan masyarakat, kemarin, membongkar tempat penjemuran bulu ayam atau itik di Desa Ngemplik, Kecamatan Karanganyar. Tindakan tegas ini dilakukan setelah usaha jemur bulu ayam dinilai sudah mencemari lingkungan sekitar. Bulu itik menyebarkan bau busuk sehingga sangat menganggu warga.

Pembongkaran dilakukan melalui operasi yustisi yang dipimpinan langsung Kepala Satpol PP Pemkab Demak, Yulianto. Turut mengawal yustisi Ketua Komisi C DPRD Demak, Sudarno. Kasi Penyuluhan dan Penegakan Perda Satpol PP, Lilik Handoyo mengatakan, pembongkaran paksa dilakukan menindaklanjuti audiensi warga Desa Ngemplik bersama tokoh masyarakat, kepala desa, dan perangkatnya ke DPRD beberapa waktu lalu. “Pada intinya, warga merasa terganggu dengan tempat penjemuran bulu ayam itu. Sebab, pencemaran udara sudah berlangsung lama,” katanya didampingi Staf penegakan perda, Sugiyono, kemarin.

Warga sebetulnya sudah mengadukan masalah itu sejak 2011 silam. Namun, baru ditanggapi sekarang. Usaha penjemuran bulu ayam merupakan milik tiga bersaudara. Yaitu, Muh Zakaria, Imron dan Mukhofifi, warga RT 6 RW 1, Desa Ngemplik. “Kita sebelumnya sudah berkali-kali memberikan peringatan pada pemilik usaha tersebut. Namun, peringatan tidak ditanggapi. Mereka bersikeras tetap menjemur bulu itik. Masyarakat tidak berani,” imbuhnya.

Penertiban dan pembongkaran dibantu juga oleh Pabrik Gula (PG) Rendeng, Kudus. Sebab, tanah atau lahan yang di tempati untuk menjemur bulu ayam itu adalah milik PG Rendeng. Untuk mempercepat pembongkaran, PG Rendeng mengerahkan alat berat berupa traktor yang biasa digunakan untuk tanaman tebu. “Kasus ini sebelumnya sudah dilaporkan ke pihak kepolisian terkait pelanggaran terhadap UU lingkungan hidup, utamanya masalah pencemaran udara,” tambahnya.

Dalam yustisi ini, ratusan anak sekolah baik dari SD, MI, dan sekolah lainnya turut langsung ikut membakar bulu ayam. Pembakaran bulu ayam sebagai bahan campuran pakan ikan lele tersebut juga disaksikan pemiliknya. Dalam yustisi ini, warga dan keluarga pemilik jemuran bulu nyaris terlibat batu hantam atau jotos-jotosan. Pihak pemilik merasa tidak terima dengan upaya pembongkaran itu. Meski demikian, mereka akhirnya menandatangani persetujuan adanya pembongkaran itu. “Pemilik sempat menunjukkan izin usaha TDP dari Badan Perizinan atau BPPTPM. Tapi, tahunnya 2013 lalu,” tambahnya. (hib/fth)