Tembak Mati Saja Biar Kapok!

269

Gemerlap Kota Semarang kala malam terkesan tenang dan menyenangkan untuk sekadar jalan-jalan. Namun sadarkah, komplotan begal jalanan diam-diam mengancam kapan dan di mana saja. Bahkan mereka tak segan beraksi kejam. Korbannya tak jarang dibabat menggunakan senjata tajam. Duh, mengerikan!

MARAKNYA begal jalanan (street crime) di Kota Atlas ini menjadi persoalan serius yang hingga kini belum teratasi dengan maksimal. Aparat kepolisian bukan berarti lepas tangan. Ratusan pelaku pembegalan berhasil ditangkap. Bahkan tak jarang ditembak bagian kakinya. Namun rupanya itu tak membuat jera pelaku. Setelah lepas dari penjara, mereka beraksi lagi. Bahkan nyaris setiap malam ada saja warga yang menjadi korban pembegalan. Khususnya di jalan-jalan sepi dan jalan yang kurang lampu penerangan. Tentu saja, ini sangat mengganggu kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Kota Semarang. Masih banyaknya peristiwa kriminal setiap hari menunjukkan bahwa kota ini sangat rawan kejahatan.

Lantas bagaimana upaya kepolisian terkait masih maraknya begal jalanan tersebut? Biar kapok, perlukah adanya aturan khusus tentang tembak mati begal jalanan? ”Saya setuju. Polisi perlu mengambil tindakan tegas. Ancaman tembak mati (bagi begal jalanan, Red) itu bagian dari shock therapy, agar pelaku takut untuk beraksi lagi. Sebab, polisi punya kewenangan untuk melakukan penembakan tersebut. Tentunya harus sesuai prosedur yang jelas,” ujar Lukni Maulana, 30, warga Banjardowo RT 2 RW 6 Genuk, Semarang saat dimintai komentarnya oleh Radar Semarang, Minggu (15/2).

Menurutnya, pihak kepolisian juga perlu melihat konteks realitas pada setiap kasus yang terjadi. Misalnya, jika pelaku diketahui membawa senjata parang, ataupun senjata api yang mengancam dan membahayakan nyawa korbannya, maka tidak salah jika pelaku ditembak di tempat agar menimbulkan efek jera.

”Saya rasa kepolisian lebih paham soal itu. Mereka telah memiliki SOP (Standar Operasional Prosedur) yang jelas. Justru pertanyaan saya adalah sejauh ini apakah polisi benar telah memaksimalkan budaya patroli rutin?” katanya mempertanyakan.

Berikutnya, lanjut Lukni, pihak kepolisian sudah semestinya bekerja sama dengan pemerintah kota untuk mengantisipasi penanganan pembegalan. Misalnya, kelengkapan infrastruktur berupa pengadaan Closed Circuit Television (CCTV) di setiap sudut kota yang dianggap rawan.

”Ada berapa titik rawan pembegalan di Kota Semarang? Jika terpasang CCTV di sejumlah titik penting, saya rasa bisa membantu memudahkan penanganan masalah pembegalan,” cetus Lukni yang juga Ketua Rumah Pendidikan Sciena Madani Semarang ini.

Selain itu, pembenahan lampu penerangan jalan umum (PJU) juga perlu dilakukan. Di Kota Semarang, lanjutnya, masih banyak ditemui lampu penerangan jalan yang mati. ”Bagaimanapun jika kondisi jalanan gelap, menyebabkan kerawanan kejahatan,” ujarnya.

Senada, Wahyudi, 40, warga Margoyoso RT 5 RW 4 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, mengaku setuju kepolisian memberlakukan tembak mati di tempat bagi begal jalanan. ”Tembak mati saja biar kapok,” tegasnya.

Menurutnya, peningkatan patroli polisi harus dievaluasi. ”Perlu mengatur piket patroli rutin secara bergilir mulai dari tingkat polsek sampai polres,” ujar pria yang berprofesi sebagai kernet truk di Kawasan Industri Jalan Gatot Subroto Semarang ini.

Sejauh ini, ”hantu jalanan” berupa begal berpedang di Kota Semarang tak pandang bulu merampas barang berharga. Mereka seakan terus gentayangan mencari mangsa. Rata-rata, pelaku adalah seorang residivis yang sudah pernah menghuni sel, dan setelah bebas mereka kembali melakukan aksi. Namun ada juga yang merupakan pemain baru. Sasarannya rata-rata adalah perempuan yang sedang mengendarai motor sendiri. Biasanya, pelaku mengincar tas yang ditaruh di bawah stang motor matic.

Salah satu korbannya Ira Nur Santi, 35, warga Jalan Pandean Lamper IV No 2 RT 3 RW 6 Semarang. Tas berisi handphone BlackBerry, uang Rp 300 ribu, STNK Honda H-5890-TP serta buku tabungan Bank Mega, dirampas oleh dua begal jalanan di Jalan Sriwijaya Semarang pada Rabu (7/1) sekitar pukul 23.00 lalu.

Korban lainnya, Muarofah, 33, warga Jalan Menoreh Barat VI No 59 RT 13 RW 01, Gajahmungkur, Semarang. Ia menjadi korban pembegalan di Jalan Veteran Semarang, Jumat (26/12/2014) lalu sekitar pukul 01.00. Bahkan pelaku beraksi sembari menodongkan sebilah pedang. Wanita yang berprofesi sebagai guru ini harus kehilangan dua unit handphone, dan dompet berisi uang Rp 300 ribu.

”Pelakunya berjumlah empat pria tak dikenal. Satu di antara pelaku mengendarai motor Suzuki Satria,” kata Muarofah kepada polisi saat melapor kala itu.

Kekejaman begal jalanan di Kota Semarang juga sempat menewaskan korbannya, yakni Rita Margiyati, 38, warga Jalan Sanggung Barat RT 02 RW 06, Jatingaleh, Candisari. Korban tewas tersungkur setelah dijambret di turunan Tanah Putih Jalan Dr Wahidin, Minggu (27/10/2013) dini hari.

Ironisnya, korban yang meninggal dalam kondisi bersimbah darah itu disaksikan oleh putrinya, Gita Nur Aulia, 10, saat itu diboncengkan ibunya mengendarai Yamaha Vega ZR H-3129-MZ. Korban saat itu hendak belanja ke Pasar Peterongan, dari arah selatan ke utara.

Sebelumnya, mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) Natisa Listyani Nasiroh tewas menjadi korban ganasnya jambret di Jalan Sultan Agung, tepatnya di depan SMA Don Bosco Semarang pada Rabu (6/6/2012) sekitar pukul 01.30. Mahasiswi angkatan 2008 jurusan Sastra Inggris ini dalam kondisi hamil 6 bulan. Natisa saat itu mengendarai Yamaha Jupiter H-6349-RZ dipepet dan ditendang oleh kawanan pelaku.

Pasca penjambretan yang menewaskan Natisa, dua pelaku berhasil diringkus. Masing-masing Adi Andreas, 24, warga Tambak Boyo Dalem, Kelurahan Siwalan, dan Sofiudin, 20, warga Shofiudin alias Gepeng bin H Sarkam, 20, warga Tlogosari Wetan, Pedurungan. Itu baru sebagian contoh kasus. Kasus-kasus serupa masih banyak terjadi. Tim kepolisian juga berkali-kali menangkap pelaku. Beberapa di antaranya ditembak dengan timah panas di bagian kakinya. Bahkan seorang pelaku bernama Mujiono, 43, warga Kretek, Winangun, Wonosobo, sempat tewas ditembak. Penjahat jalanan itu terpaksa ditembak oleh tim gabungan Reserse Mobile (Resmob) Polrestabes Semarang bersama Unit Reserse Kriminal Polsek Mijen Semarang di daerah Kopeng, Salatiga, Sabtu dinihari (20/12/2014). Sempat terjadi kejar-kejaran hingga masuk ke dalam hutan, sebelum akhirnya ditembak mati oleh tim gabungan yang dipimpin Kanit Resmob Polrestabes Semarang AKP Kadek Adi dan Panit II Aiptu Janadi. Dua pelaku lain masing-masing Krisnawan, 30, dan Joko Sunyoto, 35, warga Temanggung, juga ditembak kakinya. Meski demikian, aksi berandal jalanan yang terungkap dengan intensitas banyaknya kejadian juga belum berimbang.

Terpisah, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Jateng Kombes Pol Aloysius Liliek Darmanto mengakui, angka kriminalitas di Jateng masih tinggi. Selama 2014, terjadi sebanyak 15.919 kejadian tindak kriminal. ”Trennya turun dari 2013 lalu, yakni 17.803 kejadian. Ada penurunan sebanyak 1.884 kejadian atau turun 10,6 persen,” bebernya.

Dijelaskan Liliek, dari jumlah 15.919 kejadian di tahun 2014 itu, yang bisa terselesaikan sebanyak 9.974 kasus tindak pidana. ”Trennya turun 1.330 kasus atau 11,8 persen,” terangnya.

Menurut Liliek, masih tingginya tingkat kriminalitas tersebut tak terlepas dari banyaknya jumlah penduduk di Jateng, yakni 32.643.613 orang berdasarkan sumber Badan Pusat Statistik (BPS) 2011. Sedangkan jumlah anggota polisi di Jateng berjumlah 34.927 personel.
”Jadi, perbandingannya 1: 934. Artinya, setiap 1 anggota polisi harus melayani sebanyak 934 orang,” katanya.

Sedangkan risiko penduduk yang terkena tindak pidana, terjadi per 100.000 penduduk, sedikitnya 48 orang menjadi korban kriminalitas. ”Perhitungan berdasarkan crime clock atau selang waktu terjadinya tindak pidana, setiap 33 menit 1 detik, terjadi tindak kejahatan,” ungkapnya.

Kota Semarang sendiri, pada 2014 menempati urutan tertinggi paling rawan aksi kriminalitas, yakni terjadi 3.391 kejadian kriminal. Sebanyak 1.245 kejadian berhasil diselesaikan, atau kurang lebih 37 persen. ”Berikutnya disusul Polresta Sukoharjo sebanyak 1.382 kejadian, dan urutan ketiga Polres Jepara 700 kejadian,” bebernya.

Aksi kriminalitas terbanyak didominasi jenis kejahatan konvensional. Peringkat pertama adalah currat (pencurian dengan pemberatan) sebanyak 2.326 kejadian, berhasil diselesaikan 1.274 kasus. Disusul pencurian kendaraan bermotor (curanmor) 1.985 kejadian, berhasil diselesaikan 473 kasus. ”Berikutnya penjambretan 169 kejadian, berhasil diselesaikan 118 kasus,” ujar Liliek. (amu/aro/ce1)