REHAB PASAR : Meski dilarang, ratusan pedagang di Pasar Bandar merehab lapak menjadi bangunan permanen. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
REHAB PASAR : Meski dilarang, ratusan pedagang di Pasar Bandar merehab lapak menjadi bangunan permanen. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
REHAB PASAR : Meski dilarang, ratusan pedagang di Pasar Bandar merehab lapak menjadi bangunan permanen. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BANDAR–Ratusan pedagang Pasar Bandar, Minggu (15/2) siang kemarin, mulai membangun lapaknya menjadi kios secara permanen. Meski Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, sudah melarangnya.

Bahkan lapak di Blok B, milik Mashuri, 54, warga Desa/Kecamatan Bandar, membangun lapaknya tidak hanya dengan bata, tapi juga dengan besi beton. Sehingga bangunan lapak yang semula hanya dipisahkan dengan kayu, kini menjadi bangunan bata dan besi beton.

Pembangunan tersebut sengaja dilakukan sebagai bentuk kekecewaan. Lantaran ada salah seorang pedagang yang membangun lapak menjadi kios dengan mengambil lahan jalan yang letaknya persis di belakang Kantor UPT Pasar Bandar. Akibatnya, luas jalan masuk yang semula 6 meter tinggal 3 meter.

“Kalau lapak kami bangun permanen dilarang Pemkab Batanga. Mestinya lapak yang dibangun menjadi kios dengan menggunakan lahan jalan pasar, juga harus dilarang, karena telah menyalahi aturan,” ungkap Mashuri, Minggu (15/2) siang kemarin.

Mashuri juga menegaskan, hampir semua pemilik lapak, telah membangun lapaknya menjadi kios permanen. Ini sebagai bentuk pengamanan ketika meletakkan barang. “Semua pemilik lapak membangun permanen, sebagai pengaman untuk menyimpan barang. Kami mengetahui jika Bupati Yoyok menyarankan agar tidak dibangun permanen seperti ini. Tapi apa pihak pasar mau menjamin keamanan barang kami,” kata Mashuri, pedagang pakaian yang memiliki 2 lapak ini.

Hal senada dikatakan oleh Sunarto. Menurutnya, saran bupati untuk tidak membuat bangunan permanen, sulit dilakukan. Bangunan permanen ini, selain untuk menyimpan barang, juga memudahkan pembeli ketika berbelanja. “Kalau membuat permanen, kami bisa pasang papan nama. Dan bisa membuat bangunan tambahan pada bagian atasnya, untuk menyimpan barang,” ujar Sunarto.

Sunarto juga menandaskan agar Pemkab menindak tegas pemilik lapak, yang membangun kios tambahan dengan menggunakan badan jalan. Menurutnya, jika hal itu dibiarkan, selain menganggu keluar masuknya barang, juga menjadi kecemburuan pemilik lapak lainnya. “Sebaiknya Pemkab Batang menertibkan pemilik kios tersebut, jangan hanya menegur para pedagang lain,” tandas Sunarto.

Sementara itu, Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, menegaskan agar para pedagang Pasar Bandar melakukan studi banding ke Pasar Banyuputih yang dianggapnya baik dalam pengelolaan pasar. “Kami sudah menyarankan, agar para pedagang Pasar Bandar studi banding ke Pasar Banyuputih yang pengelolaannya lebih baik,” tegas Bupati Yoyok. (thd/ida)
Sarankan Studi Banding ke Pasar Banyuputih