TERANGKAN : Di hadapan Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Luthfie Sulistiawan, Muchlisin mengungkapkan cara kerja mengoplos tabung 3 kg ke dalam tabung 12 kg. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
TERANGKAN : Di hadapan Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Luthfie Sulistiawan, Muchlisin mengungkapkan cara kerja mengoplos tabung 3 kg ke dalam tabung 12 kg. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
TERANGKAN : Di hadapan Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Luthfie Sulistiawan, Muchlisin mengungkapkan cara kerja mengoplos tabung 3 kg ke dalam tabung 12 kg. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Dapat informasi ada warga yang sedang mengoplos gas 3 kg ke tabung 12 kg, Sat Reskrim Pekalongan Kota, pada Jumat malam (13/2), langsung menggerebek gudang Jamban Sipucung Kelurahan Panjang Wetan Kecamatan Pekalongan Utara.

Tim yang dipimpin Kasat Reskrim, AKP Bambang Purnomo, langsung mengamankan Muchlisin bin Bejo, 36, warga Jalan Kunti Utara Kesambi 8 RT 6/RW 4 Kelurahan Panjang Baru Pekalongan Utara yang sedang asyik bekerja mengoplos gas 3 kg ke tabung 12 kg.

Dalam pengerebekan tersebut, turut diamankan barang bukti berupa 115 tabung gas ukuran 3 kg, terdiri atas 76 tabung terisi gas dan 39 tabung dalam kondisi kosong. Serta diamankan pula 44 tabung ukuran 12 kg yang terdiri atas 15 tabung sudah berisi gas dan 29 tabung dalam keadaan kosong. Serta mendapati alat pengoplos gas yang terdiri atas dua set alat pemindah gas yang terdiri atas selang, stop kran dan alat penjepit besi serta dua ember plastik dan obeng.

Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Luthfie Sulistiawan dalam gelar perkara Sabtu sore (15/2) kemarin, menjelaskan bahwa pelaku pengoplos gas elpiji tertangkap tangan di sebuah gudang di Pekalongan Utara.

“Hal tersebut melanggar hukum. Pelaku akan dijerat pasal 55 UU tentang Minyak dan Gas Bumi, UU Perlindungan Konsumen tentang Metrologi Ilegal dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara,” jelas Luthfie.

Dari hasil mengoplos gas, imbuhnya, pelaku meraih untung antara Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu pertabung 12 kg yang dijualnya. Dengan hitungan sederhana, harga pertabung 12 kg yang dijual dengan harga Rp115 ribu dibanding 4 tabung 3 kg @ seharga Rp16 ribu sampai Rp17 ribuan yang digabung jadi satu.

Kendati begitu, kata Luthfie, kasus tersebut masih akan dilakukan pengembangan untuk menangkap tersangka lain. “Karena pelaku yang kami tangkap adalah pekerja lapangan, bukan pemilik usaha. Jadi masih ada pemodal di belakangnya. Pelaku juga mengaku diberi upah oleh orang lain. Tentu kami akan menangkapnya juga,” jelas dia.

Sementara itu, pelaku pengoplos, Muchlisin saat diwawancari Radar Semarang mengaku dirinya memang ditangkap saat mengoplos gas. “Saya saat digerebek diam saja, karena takut dan tidak berani lari,” jelas dia di halaman Satreskrim Polres Pekalongan Kota, Jalan Diponegoro Kota Pekalongan.

Muchlisin mengaku dapat ilmu mengoplos, belajar dari temannya. Tinggal mencolokkan kepada dua alat penghubung, lalu kran dibuka. Waktu pengisian untuk sebuah tabung 12 kg, butuh waktu sekitar 20 menit, 4 tabung ukuran 3 kg diisikan ke tabung 12 kg. “Jika suhu tabung panas saat pengisian, tinggal saya kasih es batu agar dingin dan aman. Walaupun memang berbahaya, tetap saya lakukan karena butuh uang,” ucap dia.

Hasil gas 12 kg oplosan saat dijual ke konsumen kadang dikasih segel kadang tidak. Hasil oplosan kadang dijual ke konsumen langsung atau ke pengecer dengan motor gerobak keliling kampung. Karena dijual dengan harga murah meriah, hanya Rp 105 ribu pertabung 12 kg dibanding harga resmi Rp 135 ribu pertabung. Gas oplosannya sangat laris. Sehari bisa menjual 15 sampai 20 tabung gas 12 kg. Setiap tabung yang dijual, dirinya diberi upah Rp10 ribu oleh juragannya yang kini dalam pengejaran. (han/ida)