Warga Desa Wonokerto, mencuci pakaian di Sungai Pelayaran tepi jalan raya Pantura Demak. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Warga Desa Wonokerto, mencuci pakaian di Sungai Pelayaran tepi jalan raya Pantura Demak. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Warga Desa Wonokerto, mencuci pakaian di Sungai Pelayaran tepi jalan raya Pantura Demak. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK- Mandi di sungai bagi sebagian masyarakat di wilayah Demak sejak dulu dinilai terkait juga dengan adanya pemahaman agama yang belum tuntas. Di Indonesia, khususnya di Demak kaum muslimin mayoritas menganut madzhab Syafi’i (Syafi’i Oriented). Karena itu, salah satu pemahaman yang diyakini adalah bahwa air yang mengalir itu lebih suci mensucikan daripada air sumur yang tidak mengalir.

Dengan pemahaman inipula, tidak heran bila banyak warga yang kemudian mandi maupun wudlu di sungai. Meski demikian, tradisi mandi disungai tersebut kini sudah banyak berkurang.

Direktur STAIN Kudus, Dr Abdurrahman Kasdi mengatakan, pemahaman seperti itu harus dikontekstualisasikan atau disesuaikan dengan perkembangan maupun kondisi lingkungan yang ada. “Kita contohkan, bagi warga Mesir misalnya, Sungai Nil di sana itu sangat dijaga kebersihannya sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup termasuk untuk bersuci. Tapi, kalau di Demak ini, kondisi sungainya bagaimana perlu dilihat lagi,”katanya.

Sungai-sungai sekarang sudah banyak yang tercemar, termasuk oleh limbah pabrik sehingga airnya pun tidak bisa lagi digunakan untuk bersuci. Seperti diketahui, tradisi mandi di sungai sebelumnya diantaranya dilakukan warga tepi Sungai Pelayaran antara Sayung hingga Karangtengah.

Demikian pula, warga lainnya yang bermukim di pinggir sungai di desa-desa juga masih terlihat mandi sungai terdekat. Ini dilakukan karena mereka masih ada yang belum memiliki kamar mandi di rumah. “Ada pula warga yang sudah punya kamar mandi, namun lebih suka mandi disungai karena airnya relatif menyegarkan dan sudah terbiasa,” tambahnya. (hib/fth)