ATRAKTIF : Sujiwo Tejo saat menjadi narasumber talkshow nasional bertajuk “Matematika, Ilmu atau Seni?” di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Sabtu (14/2). (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
ATRAKTIF : Sujiwo Tejo saat menjadi narasumber talkshow nasional bertajuk “Matematika, Ilmu atau Seni?” di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Sabtu (14/2). (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
ATRAKTIF : Sujiwo Tejo saat menjadi narasumber talkshow nasional bertajuk “Matematika, Ilmu atau Seni?” di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Sabtu (14/2). (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)

SALATIGA – Matematika seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa sekolah. Selain itu, Indonesia kurang maju lantaran penguasaan matematikanya masih rendah. Hal tersebut dikatakan Agus Hadi Sudjiwo atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo saat menjadi pembicara dalam talkshow nasional bertajuk “Matematika, Ilmu atau Seni?” yang digelar di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Sabtu (14/2).

Di hadapan ratusan peserta talkshow yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKSW, Sujiwo Tejo membeberkan segala pandangannya mengenai matematika.

Pria kelahiran Jember 52 tahun silam ini menuturkan, selama ini matematika diajarkan secara salah oleh kurikulum. Dikatakannnya, matematika bukanlah sekadar hitungan belaka, namun matematika adalah tentang konsistensi logika. “Saya akui, saya mendapat pengertian matematika secara benar ketika saya kuliah di ITB jurusan matematika, dari situ saya tahu hubungan matematika dengan musik,” jelas dia.

Seharusnya seorang pemusik yang bagus, matematikanya juga harus bagus karena memang berhubungan. “Tapi ternyata banyak pemusik yang matematikanya tidak bagus, berarti matematika diajarkan secara salah oleh kurikulum,” katanya sembari tertawa.

Lebih lanjut dijelaskan, jika matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak terpola. Matematika itu sudah ada di alam, manusia tinggal menangkap polanya, kemudian merumuskan. “Contohnya bilangan fibbonaci, rasio bilangan fibbonaci dapat kita temukan pada benda-benda yang ada di alam seperti cangkang keong, pola bunga, serta tubuh manusia, itulah kemampuan matematika yang harus ditanamkan,” ungkap Sujiwo Tejo.

Seminar dibuka resmi oleh Rektor UKSW Prof (HC) Pdt John A. Titaley yang didampingi Pembantu Rektor I Prof Ferdy Semuel Rondonuwu Ph.D. Peserta dibuat terpukau dengan pemaparan Sujiwo Tedjo sembari memainkan beberapa alat musik secara bergantian. Menurut dia, bunyi dari alat-alat musik tersebut juga berasal dari hitungan matematika.

Narasumber lain, Helti Lygia M, dosen FKIP UKSW mengatakan, untuk menghindarkan matematika dari momok pelajaran yang membosankan dan menakutkan saat diajarkan di sekolah diperlukan kemampuan dari sang pengajar. Dikatakan, pembelajaran harus berpihak pada peserta didik serta terjadi interaksi multi arah antara peserta didik dan guru.(sas/aro)