SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta kepada penjual pakaian impor bekas (awul-awul) untuk menyediakan pakaian dalam keadaan bersih dan higienis. Dia mengancam akan menarik pakaian bekas yang dijual jika tidak sesuai aturan.

Hingga saat ini, Hendi, sapaan akrab wali kota, belum mau menindak secara langsung ketika belum terbukti barang dagangan mereka mengandung bakteri. Meski begitu, pihaknya meminta pertanggung jawaban penjual awul-awul jika nekat berjualan pakaian berbakteri.

“Tidak bisa langsung di-sweeping kalau belum benar terbukti pakaian yang dijual mengandung bakteri. Sebaiknya, para pedagang mensterilkan semua barang yang dijual dengan mencucui memakai air panas, dan selanjutnya distrika. Ini merupakan antisipasi agar bakteri yang disinyalit berada di pakaian bekas tersebut mati,” ungkapnya ketika ditemui Radar Semarang dalam diskusi Penggiat Wisata Semarang di Hotel Quest, beberapa waktu lalu.

Regulasi tersebut langsung disangkal salah satu pedagang awul-awul Amzar Caniago. Menurutnya, penjual tidak bisa mengikuti peraturan tersebut dalam waktu dekat ini. “Kami para pedangang selalu belanja dalam partai besar. Bahkan ada yang sampai dua truk penuh. Jika semua harus dicuci dulu, pasti butuh waktu biaya tambahan,” ungkapnya.

Ditambahkan Amzar, selama ini, belum ada kasus pakaian bekas yang mengandung bakteri di Semarang. Menurutnya, konsumen lah yang harus diimbau untuk mencuci pakaian bekas yang baru dibelinya dengan air panas sebelum dipakai.

“Saya siap jika dangangan saya mau dijadikan sampel penelitian di laboratorim. Tapi tolong mengeceknya harus fear, kalau memang terbukti mengandung bakteri, kami siap mengikuti kebijakan wali kota,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng Prijo Anggoro menyikapi secara arif dan bijaksana soal larangan bisnis pakain bekas impor. “Kami tidak ingin bat-bet menyetop penjualan pakaian bekas. Kami tunggu regulasi terbaru terlebih dahulu. Setelah regulasi, kemudian akan kami sikapi kondisi di lapangan sejauh mana pakaian bekas mengandung bakteri. Untuk saat ini harus dicek hulunya,” ujarnya. (amh/zal)