ELEGAN: Batik dengan motif lurik khas jarik gendong digunakan Yohana Wiera sebagai bahan dasar busana masa kini. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
ELEGAN: Batik dengan motif lurik khas jarik gendong digunakan Yohana Wiera sebagai bahan dasar busana masa kini. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
ELEGAN: Batik dengan motif lurik khas jarik gendong digunakan Yohana Wiera sebagai bahan dasar busana masa kini. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO – Kain lurik jarik gendong ternyata tampak elegan ketika didesain menjadi baju. Seperti karya Yohana Wiera dari Rumah Batik Kembang Keli Wonosobo. Kain bermotif lurik jarik gendong dibuat menjadi blazer, tetap tampak seksi ketika dikenakan perempuan.

Untuk memperkokoh khas lurik, Yohana menambah kalung menyerupai bunga, beralas kain lurik dengan memasang manik-manik batu warna kuning. Saat dikenakan di leher, paduan itu, makin sempurna. Kecantikan wajah sang model makin memancar.

Batik karya Yohana Wiera berlabel Atmosfir of Wonosobo menyuguhkan konsep yang berbeda. Sebelumnya karya batik Kembang Keli dengan motif buah carica dan purwaceng sebagai ikon Wonosobo, lebih memilih pada warna-warna gelap padam. Seperti ungu, hitam, hijau tua, serta merah maroon.

Selain lurik, Yohana juga memunculkan batik dengan ciri baru yakni warna yang ngejreng. Warna ini, diyakini bisa membuat anak muda dan remaja menyukai batik khas Wonosobo dengan motif purwaceng dan daun carica.

Yohana menyampaikan, sejak beberapa tahun terakhir ia terus mengasah kreativitas dalam melahirkan karya batik yang khas Wonosobo. Sejak mula, karyanya mempertahankan motif buah carica dan purwaceng, tanaman khas Dieng, sebagai motif utama. Sedangkan untuk pewarnaan memilih warna tua dan padam.

“Warna padam memang lebih saya pilih agar hasilnya lebih tampak elegan dan wibawa, selain itu melihat kondisi iklim Wonosobo yang dingin,” katanya.

Namun, kata Yohana, berdasarkan survei pasar, warga Wonosobo minatnya cukup tinggi memilih warna baju yang cerah. Untuk itu, sejak dua tahun terakhir Kembang Keli mengeluarkan produk desain dengan dominan warna cerah dipadukan dengan motif jarik gendong lurik. “Saya melihat orang Wonosobo banyak yang menyukai warna ngejreng,termasuk anak mudanya,” katanya.

Sedangkan untuk pemilihan motif jarik gendong lurik, Yohana bermaksud menempatkan batik sebagai karya adiluhung yang selalu cocok dipadukan dengan desain apapun, termasuk jarik lurik. “Saya juga membuat karya batik yang saya padukan dengan jins, ternyata elegan juga. Malah dinilai lebih gaul untuk anak remaja,” jelasnya. (ali/ton)