SEMARANG – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Kamis (12/2) lalu menjadi kewaspadaan bagi banyak pihak. Tidak hanya dalam mengantisipasi datangnya banjir, tetapi juga mengetahui potensi terjadinya tanah longsor. Sebab, pergeseran tanah diketahui terjadi sewaktu-sewaktu.

”Akibat hujan kemarin, sejumlah titik di (kota) Semarang terjadi banjir. Sementara untuk daerah tidak ada. Kalau longsor hampir tiap hari ada,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sarwa Pramana kepada Radar Semarang, Jumat (13/2).

Sarwa menjelaskan, longsor paling parah terjadi di daerah Banjarnegara, Karanganyar, Cilacap, dan Kudus. Sementara di daerah Wonosobo dan Pekalongan rata-rata terjadi longsor dengan ukuran lebih kecil. ”Meski begitu, rekomendasinya masyarakat harus direlokasi,” imbuhnya.

Untuk melakukan relokasi, lanjut Sarwa, tergantung kepada daerah masing-masing. Jika pemerintah setempat telah menarik warganya dan mempersiapkan lahan, maka dapat segera dilaksanakan. ”Namun jika belum ada yang diajukan maka kami belum bisa bergerak,” terangnya yang mengaku telah memasang early warning system sebagai upaya antipasi bencana.

Sarwa mengimbau kepada masyarakat yang hidup di daerah rawan longsor untuk segera pindah ketika mengetahui tanda-tanda datangnya bencana. Misalnya ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi tanah mulai bergerak untuk segera menghindar dari lokasi. ”Kami juga mengharap pemerintah kabupaten/kota untuk segera melakukan normalisasi drainase secara keseluruhan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jawa Tengah, Reni Kraningtyas mengungkapkan bahwa untuk satu hingga dua ke depan potensi terjadi curah hujan ekstrem masih ada. Namun tidak separah dengan apa yang terjadi Kamis lalu. ”Hal ini dikarenakan posisi low pressure area telah bergerak ke arah barat,” jelasnya.

Dijelaskan, Kamis lalu intensitas curah hujan diketahui mencapai 159 mm per hari. Untuk dua hari ke depan diperkirakan masih di atas 100. Menurutnya, hujan ekstrem tidak hanya terjadi di daerah pegunungan tetapi juga di dataran rendah. ”Musim peralihan diperkirakan akan terjadi pada April mendatang,” terang Reni.

Disinggung potensi terjadi longsor di Jawa Tengah, Reni tidak membantahnya. Menurut dia, kondisi permukaan laut diketahui masih hangat sehingga memicu awan hujan. ”Meskipun puncak musim hujan terjadi Januari, namun kita harus selalu waspada. Sebab, sewaktu-waktu kondisi bisa terjadi seperti kemarin,” pungkasnya. (fai/ric/ce1)