BERDUKA: Kasmin, 43, ayah menunjukkan idenitas KTA Gerakan Pramuka milik anaknya Muhamad Riyawadi yang tewas akibat perkelahian dengan adik kelasnya, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
BERDUKA: Kasmin, 43, ayah menunjukkan idenitas KTA Gerakan Pramuka milik anaknya Muhamad Riyawadi yang tewas akibat perkelahian dengan adik kelasnya, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
BERDUKA: Kasmin, 43, ayah menunjukkan idenitas KTA Gerakan Pramuka milik anaknya Muhamad Riyawadi yang tewas akibat perkelahian dengan adik kelasnya, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

TEWASNYA siswa MTs NU 10 Penawaja Kendal, Muhammad Riwayadi membuat keluarga sedih dan belum menerima kejadian tersebut. Apalagi korban diketahui meninggal usai berkelahi dengan adik kelasnya di kamar mandi sekolah. Orangtua korban Kasmin, 43 dan Wasini, 50, tak bisa menahan tangis ketika jenazah Riwayadi dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Surokonto Wetan, kemarin.

Pihak keluarga berharap agar tewasnya korban harus diusut tuntas. Ia meminta agar kasus perkelahian yang mengakibatkan anakya meninggal segera diungkap oleh pihak kepolisian. Keluarga berharap, pelakunya bisa dihukum seberat-beratnya. “Saya masih belum terima dengan kejadian ini,” akunya orangtua korban, Kasmin.

Keluarga korban mengaku memang pihak sekolah terkesan menutup-nutupi kejadian tersebut. Bahkan ia mengetahui jika Riwayadi mengalami kecelakaan karena terpleset dari kamar mandi sekolah. Ia mendapatkan kabar tersebut dari salah seorang guru yang datang ke rumahnya “Saya mendapatkan kabar anak saya terpeleset dari kamar mandi, katanya kondisinya sudah tidak sadar dan dibawa ke klinik As Syifa Husada. Jadi saya ke sana, saat sampai di Klinik, anak saya sudah meninggal ditutup kain kafan,” imbuhnya.

Kasmin yang ditemui di rumah duka di Dusun Watudono, Desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung mengaku tidak mengira jika anaknya yang paling bontot akan menghembuskan nyawa terakhir. Ia mengaku sempat curiga saat mendapat penjelasan dari pihak sekolah. “Mosok kok jatuh bisa sampai meninggal. Apalagi ada luka di bagian kepala belakang sedalam 1,5 sentimeter dan luka memar di bagian bibir,” tambahnya.

Dari Klinik As Syifa Husada, ia hendak membawa jenazah anaknya ke rumah untuk disucikan dan dikebumikan. Namun sebelum dikebumikan, ia mendapatkan kabar dari teman-teman sekolah, jika anaknya meninggal bukan karena jatuh tapi karena berkelahi dan dipukuli oleh siswa beranama MS. Mengetahui hal tersebut, ia langsung lapor ke Polsek Pageruyung. Oleh pihak kepolisian, kemudian dibawa puskesmas Sukorejo untuk dilakukan visum. “Tapi untuk penyelidikan, katanya harus dilakukan otopsi ke Rumah Sakit Bhayangkara, Semarang,” akunya.

Setelah dilakukan otopsi, pagi kemarin anaknya dikembalikan ke rumah duka untuk disucikan dan dikebumikan jenazahnya di tempat pemakaman desa setempat. “Saya kecewa dengan pihak sekolah yang sejak awal tidak berterus terang kepada kami. Seolah malah sekolah menutup-nutupi kejadian ini. Padahal saya adalah orang tua yang membesarkan anak, masa anak sampai meninggal tidak diberitahu,” keluhnya.

Diakuinya, jika keluarga sangat terpukul dan mengalami duka yang mendalam dengan kepergian Riwayadi. Apalagi setelah mengetahui anaknya terlibat baku hantam dengan teman sekolahnya. Sebab, selama ini Riwayadi dikenalnya sebagai anak yang pendiam dan menurut pada orang tua. Riwayadi juga tidak pernah terlibat perkelahian dengan teman-temannya selama ini. Bahkan Riwayadi cenderung takut berkelahi, karena setiap harinya selalu bermain dengan anak-anak dibawah umurnya. “Sebelumnya sekolah, dia juga tidak bercerita jika ada masalah dengan teman sekolahnya,” kenangnya.

Ibu korban, Wasini berharap, jika memang anaknya meninggal karena dipukuli sama temannya, keluarga pelakunya bisa segera ditangkap dan diadili. “Kalau perlu dihukum seberat-beratnya dan sekolah diberikan sanksi karena tidak pecus mendidik anak. Masa anak sampai berkelahi tapi sekolah tidak memisah hingga anak saya meninggal,” harapnya.

Paman Riwayadi, Agus Tri Purnomo, 28, mengaku, jika pengakuan teman-teman sekolah Riwayadi yang datang melayat juga mengatakan jika Riwayadi sempat dipukuli di kamar mandi sebelum akhirnya meninggal. “Kalau kata teman-teman sekolahnya, ponakan saya itu sudah meninggal di sekolah, tidak di rumah sakit,” ucapnya. (bud/fth)