Diduga Mantan Bupati Ngemplang

257
MASIH DANA BANTUAN : Ketua Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) Fajar Mulia, Witono, pastikan tidak lari, meski dilaporkan polisi nasabahnya yang belum bisa mencairkan tabungan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
MASIH DANA BANTUAN : Ketua Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) Fajar Mulia, Witono, pastikan tidak lari, meski dilaporkan polisi nasabahnya yang belum bisa mencairkan tabungan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
MASIH DANA BANTUAN : Ketua Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) Fajar Mulia, Witono, pastikan tidak lari, meski dilaporkan polisi nasabahnya yang belum bisa mencairkan tabungan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Penyebab Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) Fajar Mulia kolaps dan tak bisa mencairkan tabungan nasabahnya, diduga karena ratusan nasabah ngemplang pembayaran kredit hingga Rp 3 miliar. Diduga termasuk mantan Bupati Semarang Bambang Guritno, menunggak kredit sebesar Rp 50 juta. Selain itu, ada juga mantan anggota DPRD Kabupaten Semarang asal Kecamatan Bringin.

Menurut Ketua BMT Fajar Mulia, Winoto, koperasi jasa keuangan berbasis syariah yang dipimpinnya berdiri sejak 1996 dengan modal jutaan rupiah. Hingga saat ini nasabahnya mencapai 10 ribu orang lebih dengan aset mencapai miliaran rupiah. Di tahun 2015 ini, BMT mengalami kesulitan keuangan sebab terjadi kredit macet sejumlah nasabahnya.

“Kami melakukan perbaikan manajemen masa lalu dan sudah mulai baik. Tapi pada tahun ini, kami baru mengalami kesulitan, kami baru jatuh. Cabang Ambarawa, Bandungan dan Gunungpati kami tutup. Bahkan aset kami, tinggal separuhnya. Pengurus juga tidak digaji selama 7 bulanan,” tutur Winoto, ditemui di kantor pusat BMT Fajar Mulia di Ruko Town Square, Ungaran, Jumat (13/2) kemarin.

Terjadinya kredit macet itulah yang menyebabkan pengurus kesulitan mengelola keuangan. Winoto mengatakan konsep awalnya memudahkan masyarakat kecil mengakses permodalan sehingga memberikan kemudahan kredit tanpa jaminan. Justru itulah yang menyulitkan ketika terjadi kredit macet. Bahkan menurut Winoto, kreditor yang ngemplang pembayarannya itu ada mantan Bupati Semarang Bambang Guritno dan anggota DPRD Kabupaten Semarang.

Selain banyak kredit macet, para nasabah yang khawatir dengan uangnya memilih menarik tabungannya bersamaan. Padahal total tabungan nasabah mencapai Rp 7 miliar sudah diputar untuk kredit dan aset.

“Kami maklum nasabah khawatir sehingga seperti ini. Bahkan setiap hari, kami kerepotan harus mengurusi nasabah yang berdatangan untuk menarik tabungannya. Pengurus BMT, selain tidak digaji mereka habis-habisan asetnya untuk nomboki pengembalian dana nasabah,” imbuh Winoto di sela-sela melayani para nasabahnya.

Saat ini, Winoto dan timnya berupaya mendapatkan suntikan dana dari bank besar. Sehingga BMT Fajar Mulai dapat sehat kembali. Selain itu, menagih dana pinjaman dari kreditor yang macet. Winoto menyatakan akan bertanggung jawab untuk mengembalikan uang tersebut. Pihaknya juga tidak kabur ke Singapura, sebagaimana yang diisukan.

“Kami sudah mengajukan pada bank besar, jika kami tidak dibantu tentu akan berimbas. Yakni, kepercayaan masyarakat akan turun pada BMT dan bank syariah lainnya. Kami berusaha maksimal mencari dana dan kami bertanggung jawab. Jika nanti masuk ke ranah hokum, biarlah saya yang masuk (penjara) karena ini kesalahan saya. Saya juga tidak kabur kemana-mana, selama ini kalau tidak di rumah, ya di kantor,” pungkasnya. (tyo/ida)