Belajar Efektif dengan Alat Peraga

122
ADU KREATIVITAS: Ratusan siswa dari 13 MI/MTS se-Jateng meramaikan event unjuk karya siswa dan guru yang digelar di Hotel Aston Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
ADU KREATIVITAS: Ratusan siswa dari 13 MI/MTS se-Jateng meramaikan event unjuk karya siswa dan guru yang digelar di Hotel Aston Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
ADU KREATIVITAS: Ratusan siswa dari 13 MI/MTS se-Jateng meramaikan event unjuk karya siswa dan guru yang digelar di Hotel Aston Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

REJOMULYO – Para siswa dan guru saling berlomba menciptakan kreativitas pembelajaran dalam event yang digelar di Hotel Aston, Rabu (11/2) kemarin. Kegiatan bertajuk ”Unjuk Karya Siswa dan Guru MI/MTs” ini digelar oleh United States Agency for International Development (USAID) Jateng. Peserta kegiatan berasal dari 13 MI/MTS se-Jateng. Mereka menciptakan alat peraga untuk meningkatkan daya tangkap belajar. Di antaranya, alat paraga berupa gambar yang terbuat dari kertas, alat timbangan yang terbuat dari gelas, serta beberapa contoh alat peraga lain seperti alat peraga pembelajaran organ manusia yang terbuat dari bambu.

Koordinator USAID Jateng, Nurkholis, mengatakan, pameran alat peraga belajar ini dilakukan dengan tujuan untuk saling berbagi ilmu dalam pembelajaran mata pelajaran di sekolah. Menurutnya, hal ini penting, karena kreativitas guru sangat diperlukan dalam menerangkan pelajaran kepada siswanya.

”Dulu para siswa kan mendapatkan pelajaran hanya dengan teori. Sedangkan praktiknya hanya sedikit dibanding teorinya. Padahal, metode pembelajaran menggunakan alat peraga ini lebih mudah ditangkap oleh para siswa,” ungkapnya.

Kepala Ibtidaiyah (MI) Yatpi Getasrejo, Grobogan, Anjasmoro, mengakui metode pembelajaran dengan mengenalkan alat peraga mudah ditangkap para siswa. Menurutnya, pembelajaran ini para siswa langsung melakukan praktik. Sehingga tidak hanya dalam angan-angan saja.

”Biasanya para siswa kalau hanya belajar dengan mendengarkan saja belum tentu semuanya paham dan menangkap apa yang disampaikan oleh gurunya. Tapi kalau dengan praktik, para siswa akan mudah memahaminya,” katanya. (mha/aro/ce1)