KELUHKAN BAU SAMPAH: Para Siswa SDN Srondol Wetan 04 terpaksa harus belajar sambil mengenakan masker karena bau sampah yang sangat menyengat. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
KELUHKAN BAU SAMPAH: Para Siswa SDN Srondol Wetan 04 terpaksa harus belajar sambil mengenakan masker karena bau sampah yang sangat menyengat. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
KELUHKAN BAU SAMPAH: Para Siswa SDN Srondol Wetan 04 terpaksa harus belajar sambil mengenakan masker karena bau sampah yang sangat menyengat. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

BANYUMANIK – Para siswa SD Negeri Srondol Wetan 04 Semarang terpaksa mengenakan masker saat mengikuti pembelajaran gara-gara bau sampah dari kontainer yang diletakkan di dekat sekolah.

Kepala SD Negeri Srondol Wetan 04 Semarang, Widji Handani, mengakui, kontainer sampah yang diletakkan persis di pojok kanan depan pagar sekolah itu sangat mengganggu pembelajaran para siswa.

Menurut dia, hampir setiap hari siswa belajar dengan mengenakan masker akibat bau sampah yang menyengat. Apalagi saat pagi hari ketika truk pengangkut sampah mengambil sampah dari tempat pembuangan tersebut. Meski dibatasi parit kecil, aroma sampah dari kontainer itu tetap tercium sampai halaman sekolah, terutama di ruang usaha kesehatan sekolah (UKS) dan ruang kelas VI yang terletak paling ujung kanan.

”Masak ruang UKS berdekatan dengan kontainer sampah? Mestinya kan ruang itu untuk tempat istirahat jika ada siswa sakit, jadi tidak bisa dipakai. Kasihan siswa, bau sampahnya sangat kentara,” ujarnya kepada Radar Semarang, Rabu (11/2).

Bahkan, kata dia, ruang koperasi dan kantin yang semula berada di ujung kanan sekolah dipindahkan ke bagian lain, karena khawatir masakan dan jajanan terkontaminasi dengan bau sampah yang menyengat.

Ia menjelaskan, kontainer sampah itu diletakkan di dekat sekolah yang bersebelahan dengan Pasar Rasamala sejak 1,5 tahun lalu, dan sudah dilaporkan, tetapi tidak ada tindakan dari pemerintah kota. ”Sudah kami laporkan ke Pemerintah Kota Semarang, namun belum ditindaklanjuti. Padahal, kontainer itu untuk tempat pembuangan sampah warga satu Kelurahan Srondol Wetan. Coba bayangkan?” kata Widji setengah bertanya.

Femorina Rajunitya, 11, siswi kelas VI A mengaku terganggu sekali dengan bau sampah yang menyengat. Sehingga ia terpaksa mengenakan masker ketika mengikuti pembelajaran. ”Sampahnya bau sekali, bikin sering pusing, mual, dan tidak konsentrasi (saat mengikuti pembelajaran, Red). Apalagi, kalau pagi hari. Kalau bisa, sampahnya dipindahkan ke tempat lain,” harapnya.

Salah satu guru setempat, Sri Lestari, yang juga tinggal di kawasan itu menceritakan, sebenarnya kontainer sampah itu sempat dipindah ke lapangan Gaharu ketika Pasar Rasamala direnovasi. ”Saya sejak kecil tinggal di sini. Dulu, kontainer sampah itu belum ada. Baru ada beberapa tahun lalu, kemudian sempat dipindah ke Lapangan Gaharu. Sekitar 1,5 tahun lalu dikembalikan ke sini lagi,” ujarnya.

Masyarakat sekitar pun, kata dia, akhirnya mengidentikkan kontainer dan bau sampah menyengat dengan SDN Srondol Wetan 04 Semarang, kata dia, sampai-sampai banyak yang menjuluki sebagai ’SD sampah’.

”Imbasnya, banyak yang tidak mau sekolah di sini. Dapat siswa 30 orang per kelas saja sudah untung. Sekarang ini, paling-paling satu kelas hanya 25-26 orang. Padahal, dulu sekolah ini favorit,” katanya.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang menyatakan segera mencari solusi mengatasi permasalahan di SDN Srondol Wetan 04 yang terganggu bau sampah sehingga kerap disebut ’SD sampah’. ”Iya, memang bau (sampah). Kami akan segera koordinasikan dengan dinas-dinas terkait,” ujar Kepala Disdik Kota Semarang Bunyamin saat meninjau sekolah setempat.

Ia menjelaskan, kedatangannya ke SD itu untuk memantau dan memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik, sebagaimana biasa dilakukannya setiap hari mengunjungi sekolah-sekolah secara rutin.

Bunyamin yang datang sendirian langsung berkeliling kompleks SD yang bersebelahan dengan Pasar Rasamala, serta melihat para siswa yang terpaksa harus mengenakan masker saat mengikuti proses pembelajaran. ”Saya membiasakan mengunjungi sekolah mana pun untuk memantau pembelajaran. Pembelajaran di sini (SDN Srondol Wetan 04) ternyata tertib, tidak ada kelas kosong. Ada juga pembekalan siswa untuk lomba,” katanya.

Mengenai permasalahan bau sampah menyengat dari kontainer tempat pembuangan sampah yang berada di sebelah sekolah, ia akan berkomunikasi dengan Dinas Pasar dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). ”Kami akan koordinasikan dengan teman-teman terkait. DKP kalau bisa mungkin secara rutin mengangkut sampahnya. Nanti kami akan diskusi bareng-bareng untuk mencari solusi permasalahan ini,” janjinya. (ewb/aro/ce1)