STOP KEKERASAN PERS: Belasan awak media dari media cetak maupun elektronik melakukan aksi damai menolak kekerasan pers di depan Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
STOP KEKERASAN PERS: Belasan awak media dari media cetak maupun elektronik melakukan aksi damai menolak kekerasan pers di depan Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
STOP KEKERASAN PERS: Belasan awak media dari media cetak maupun elektronik melakukan aksi damai menolak kekerasan pers di depan Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Belasan jurnalis di Kendal menggelar aksi damai menolak kekerasan terhadap insan pers. Aksi dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ini diisi dengan teatrikal dan orasi dilakukan di depan Kantor Bupati Kendal, Jalan Soekarno-Hatta 193. Sejumlah jurnalis melakukan teatrikal yang mengambarkan kekerasan yang selama ini dialami insan pers oleh penguasa.

Diawali dengan munculnya satu orang berbalut koran, yang digambarkan sebagai wartawan dijerat dengan tali tambang diikatkan ke leher. Kemudian ia diseret seseorang yang digambarkan sebagai penguasa. Sosok penguasa yang digambarkan dengan pakaian serba hitam laiknya malaikat pencabut nyawa ini selalu membatasi ruang gerak jurnalis untuk menulis fakta di lapangan.

Dalam aksi itu, jurnalis sempat membanting laptop sebagai bentuk protes dan penolakan terhadap kekerasan yang menimpa jurnalis. Selain itu, masih minimnya kesejahteraan. “Undang-undang sudah mengatur, tapi masih banyak yang melakukan kekerasa terhadap jurnalis. Padahal mereka bukan preman sehingga tidak perlu kekerasan untuk menyelesaikan masalah,” kata coordinator aksi Slamet Priyatin.

Ketua panitia HPN Kabupaten Kendal, Rosyid Ridho mengatakan, peringatan HPN dilakukan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya donor darah dan dialog bersama Kejaksaan Negeri Kabupaten Kendal dan memberikan sumbangan terhadap panti asuhan. “Donor darah sebagai bentuk sikap jurnalis untuk meberikan kontribusi bagi masyarakat dalam hal ini bekerjasama dengan PMI Kendal. Sedangkan dialog hukum, dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada wartawan jika nantinya terseret ke ranah hukum terkait pemberitaan,” katanya.

Rosyid menambahkan, kekerasan terhadap jurnalis memang belum pernah terjadi di kabupaten Kendal. “Kami berharap tidak akan terjadi di Kendal. Apalagi, sebentar lagi ada Pilkada, yang suhu politik mulai memanas,” tandasnya. (bud/fth)