Produk Ilegal Rp 742 Juta Dimusnahkan

154
RATUSAN JUTA: Obat dan makanan ilegal hasil penjaringan BBPOM dimusnahkan dengan cara dibakar, di belakang kantor BBPOM Semarang, kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
RATUSAN JUTA: Obat dan makanan ilegal hasil penjaringan BBPOM dimusnahkan dengan cara dibakar, di belakang kantor BBPOM Semarang, kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
RATUSAN JUTA: Obat dan makanan ilegal hasil penjaringan BBPOM dimusnahkan dengan cara dibakar, di belakang kantor BBPOM Semarang, kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)

SEMARANG – Ribuan obat tradisional dan kosmetik ilegal dimusnahkan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), Selasa (10/2). Ribuan obat yang dimusnahkan dengan cara dibakar ini nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

Ribuan barang kemasan ilegal yang dibakar terdiri atas 258 item dengan jumlah kemasan obat tradisional mencapai 3.458 kemasan. Sedangkan kosmetik ilegal sebanyak 8.164 kemasan.

Pembakaran yang dilakukan secara simbolis ini dilakukan di belakang kantor BBPOM Kota semarang, sementara selebihnya dimusnakan di Tempat Pembungan Akhir (TPA) Jatibarang.

Kepala BBPOM Kota Semarang Agus Prabowo mengatakan obat tradisional dan kosmetik ilegal didapat dari hasil pengawasan pre market dan post market sejak tahun 2014. Barang merupakaan sitaan dari lima tangan tersangka di Jawa Tengah, yakni 2 orang asal Solo, 2 orang asal Cilacap dan 1 orang dari Sukoharjo.

”Jumlah barang yang dimusnahkan, secara ekonomis mencapai senilai Rp 742 juta. Sebagian dibakar di tempat ini dan sebagian dimusnahkan di TPA Jatibarang sebanyak 2 truk dengan cara digilas dengan alat berat,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Selasa, (10/2) kemarin.

Diakuinya, selama tahun 2014 kemarin, Balai Besar POM Semarang secara konsisten melakukan pengawasan obat dan makanan ilegal yang beredar di Jawa Tengah. Dalam satu tahun kemarin telah melakukan lima kali pemusnahan obat dan makanan yang tidak memenuhi standar dan persyaratan. ”Tahun 2014, kita memusnahkan barang sama dengan total nilai mencapai Rp 581 juta rupiah,” terangnya.

Pihaknya menambahkan, para pelaku dikenakan pasal 196 dan atau 197 UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Karena telah memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar dan tidak memenuhi persyaratan keamanan. ”Para tersangka bisa dikenakan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak 1,5 miliar,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau kepada mayarakat berperan aktif dalam pembasmian barang atau produk ilegal yang dinilai dapat mengancam keselamatan mayarakat. Menurutnya, barang atau produk ilegal terdapat banyak zat senyawa beracun. ”Zat senyawa ini sengaja dimasukkan oleh para pembuat produk ini. Racun ini masuk ke peredaran darah yang bisa menyebabkan kanker,” pungkasnya. (mha/zal/ce1)