HOME INDUSTRI: Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jateng, Kombes Pol A. Liliek Darmanto saaat menunjukkan barang bukti mi formalin di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
HOME INDUSTRI: Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jateng, Kombes Pol A. Liliek Darmanto saaat menunjukkan barang bukti mi formalin di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
HOME INDUSTRI: Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jateng, Kombes Pol A. Liliek Darmanto saaat menunjukkan barang bukti mi formalin di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)

BANYUMANIK – Sebuah home industri yang memproduksi mi mengandung formalin, atau yang biasa digunakan sebagai pengawet mayat digerebek tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Jateng.

Dua tersangka diringkus dan langsung dijebloskan di sel tahanan Mapolda Jateng. Masing-masing tersangka berinisial MAR, 41, warga Dusun Kwancen RT 3 RW 1, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang dan MS, warga Maduroso RT 3 RW 10, Desa Balekerto, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Home industri yang sudah beroperasi 7 bulan ini diketahui mampu memproduksi sebanyak 7 kuintal hingga 1 ton per hari. Mi mengandung formalin itu diedarkan dan dipasarkan di sejumlah pasar tradisional di Jateng. ”Tersangka memproduksi mi dicampur bahan berbahaya formalin di rumahnya,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jateng, Kombes Pol A. Liliek Darmanto di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin.

Menurut keterangan tersangka MAR, lanjut Liliek, mi formalin tersebut diedarkan di wilayah Magelang. Sedangkan MS memasarkan di wilayah Magelang, Wonosobo, Boyolali, hingga Gunung Kidul Jogjakarta. Hasil produksinya cukup besar. Tersangka MAR memproduksi 7 sampai 8 kuintal per hari. ”Sedangkan tersangka MS memproduksi 1 ton per hari,” terang Kabid Humas.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djoko Poerbo Hadijoyo mengatakan, pihaknya masih terus mengembangkan penyelidikan. Dua tersangka dijerat Pasal 136 huruf b juncto Pasal 75 ayat (1) Undang-Undang nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 10 miliar dan Pasal 106 juncto Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang nomor 47 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman pidana maksimal 4 tahun penjara dan denda maksimal Rp 10 miliar.

Tersangka MAR mengaku mendapat keuntungan bersih tiap bulan Rp 5 juta. Sedangkan tersangka MS mengeruk keuntungan bersih Rp 12 juta per bulan. Pihak kepolisian menyita barang bukti sebanyak 500 kg mi basah siap edar, sebanyak 25 kg serbuk putih mengandung formalin, 4 mesin alat untuk menggiling mi dan sejumlah peralatan memasak. (amu/zal/ce1)