Gara-Gara Tak Punya Pekerjaan, Malah Sukses Berbisnis

218
DARI SINGKONG: Para pekerja di toko Christine Hakim sedang menimbang dan mengemas keripik balado sebelum dijual. (PRATONO/RADAR KEDU)
DARI SINGKONG: Para pekerja di toko Christine Hakim sedang menimbang dan mengemas keripik balado sebelum dijual. (PRATONO/RADAR KEDU)
DARI SINGKONG: Para pekerja di toko Christine Hakim sedang menimbang dan mengemas keripik balado sebelum dijual. (PRATONO/RADAR KEDU)

SINGKONG merupakan salah satu bahan makanan yang mudah tumbuh di berbagai tempat. Jika dikelola dengan baik, singkong bisa menambah penghasilan keluarga.

Salah satu oleh-oleh makanan khas yang terkenal di Padang dan Bukittinggi Sumatera Barat adalah keripik balado. Makanan ringan ini berbahan baku singkong yang digoreng kering dan diberi bumbu cabai yang pedas. Meski tampak sederhana, makanan ini banyak dicari wisatawan.

“Dalam sehari saya masak 1 ton singkong. Satu ton singkong kalau dibikin keripik balado jadi 300 kilogram,” tutur Christine Hakim, salah satu pengusaha keripik balado di Jalan Nipah Kota Padang.

Di hadapan Wakil Bupati Temanggung Irawan Prasetyadi, Sekretaris Daerah Bambang Arochman dan rombongan Pemkab Temanggung pekan lalu, Christine mengaku tak pernah kesulitan mencari bahan baku ubi-ubian yang aslinya berasal dari Amerika Selatan tersebut. “Cari singkong sangat mudah, saya tidak pernah kesulitan cari bahan baku,” ujarnya.

Setiap kilogram keripik balado yang sudah siap santap, dijualnya seharga Rp 60.000. Jadi dalam sehari, omzet makanan dari singkong ini bisa mencapai Rp 18 juta. Itu belum produk lain yang juga dijual di toko dengan nama serupa nama pemiliknya. Selain keripik balado, tokonya juga menjual oleh-oleh makanan khas Padang, seperti rendang dalam kemasan, dendeng, keripik kentang, bipang kacang, rakik, galamai, ikan bilih goreng, bumbu, sambal dan aneka macam makanan lainnya.

Pembuatan keripik balado tidak sulit. Pertama, singkong dikupas dan dicuci, lalu diiris tipis-tipis. Singkong yang sudah diiris tipis ini selanjutnya digoreng hingga kering. Kemudian disiapkan bumbu balado dari cabai, bawang putih, dan bawang merah yang dihaluskan. Bumbu tersebut ditumis dan setelah cukup, masukkan singkong dan diaduk hingga merata.

Christine mengaku, awalnya ia tak sengaja berbisnis keripik balado. Pada tahun 1980-an, ia masih menumpang di rumah kakaknya. Saat itu, suami kakaknya tidak memiliki pekerjaan tetap. Christine lalu mengusulkan kepada kakaknya untuk membuat keripik balado dan dikemas kecil-kecil, selanjutnya dititipkan ke warung sekitar rumah.

Rupanya produk ini banyak peminatnya. Bahan baku singkong yang pada awalnya hanya sekitar 20 kilogram, lama-kelamaan terus bertambah. Pada 1990-an, ketika sudah menikah, Christine memutuskan untuk membuka usaha sendiri, berpisah dengan kakaknya. Usaha ini akhirnya sukses hingga ia bisa mempekerjakan 30 karyawan.

“Awalnya memang coba-coba karena tidak punya pekerjaan. Ternyata banyak yang suka, akhirnya terus menjadi besar,” jelasnya.

Wakil Bupati Temanggung Irawan Prasetyadi mengatakan, keuletan Christine dalam membangun bisnis keripik balado bisa menjadi contoh masyarakat dalam berusaha. Singkong selama ini sering dipandang sebelah mata, ternyata bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar.

“Di Temanggung juga banyak tanaman singkong. Kalau ada ide kreatif untuk mengolah singkong, tentu bisa memiliki nilai tambah,” jelas Irawan. (ton)