LARIS MANIS: Suryono (pakai blangkon) bersama istri saat melayani para pembeli yang kebanyakan para PNS di lingkungan Pemprov Jateng. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
LARIS MANIS: Suryono (pakai blangkon) bersama istri saat melayani para pembeli yang kebanyakan para PNS di lingkungan Pemprov Jateng. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
LARIS MANIS: Suryono (pakai blangkon) bersama istri saat melayani para pembeli yang kebanyakan para PNS di lingkungan Pemprov Jateng. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kebijakan pemerintah provinsi (Pemprov) Jateng yang akan mewajibkan penggunaan busana adat Jawa sebagai pakaian dinas mendatangkan rezeki bagi sebagian orang. Salah satunya seperti yang dirasakan Suryono, 40, warga Sampangan Kota Semarang yang kemudian memiliki inisiatif menjual perlengkapan busana adat Jawa guna memenuhi kebutuhan para pegawai negeri sipil (PNS) itu.

”Saya tahunya (kebijakan) dari baca koran. Setelah itu, saya bersama istri sengaja kulakan ke Jogjakarta dan kemudian menjualnya di sini,” ujar Suryono ditemui saat menjajakan barang dagangannya di belakang Kantor Gubernur Jateng, Senin (9/2).

Dia mengaku baru kali pertama menjual barang-barang tersebut. Pasalnya sehari-hari ia adalah pekerja serabutan. Meski begitu, ia terlihat luwes menawarkan berbagai jenis beskap, blangkon, kain batik, kebaya, hingga sandal selop kepada para pengunjung. Harga yang ditawarkannya pun cukup miring dibandingankan dengan yang ada di toko pakaian. ”Daripada susah milih-milih ke sana, di sini juga ada,” imbuhnya berpromosi.

Untuk jenis beskap, Suryono membanderol Rp 100 ribu. Sementara untuk jenis sorjan pembeli cukup merogoh kocek Rp 80 ribu. Sedangkan kain batik untuk bawahan ia hargai Rp 80 ribu, blangkon Rp 25 ribu, dan sandal selop Rp 30 ribu. ”Jika ingin hemat, ada paket hemat satu stel lengkap terdiri dari beskap, kain, blangkon, lontong, dan sandal cukup membayar Rp 275 ribu saja,” terangnya. Dia mengaku barangnya telah laku terjual 30 persen.

Salah satu pembeli, A Santosa, 35, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya penjual dadakan tersebut. Sebab, ia tidak harus pergi ke toko pakaian untuk membeli segala perlengkapan yang dibutuhkan. ”Saya cari pakaian adat yang tidak ada kerisnya. Ternyata di sini ada,” ujar PNS Dinas Cipta Karya Pemukiman dan Tata Ruang ini.

Santosa sendiri mengaku telah menghabiskan Rp 55 ribu untuk membeli blangkon seharga Rp 30 ribu dan sandal selop seharga Rp 25 ribu. Ia akan membeli kebutuhan lainnya jika uang yang dibawa cukup. ”Ceritanya nyicil dulu,” imbuhnya.
Disinggung apakah kebijakan tersebut memberatkan, Santosa menyatakan tidak. Menurutnya, program yang dicanangkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo cukup bagus karena mengajak untuk menguri-uri budaya lokal. ”Tidak masalah keluar sedikit uang, toh Pak Ganjar sudah menaikkan tunjangan PNS yang banyak,” tandasnya.

Hal yang tak jauh beda juga diungkapkan Parengno, 43, salah satu PNS dari Biro Umum Setda Jateng. Ia mengaku gembira dan siap mengenakan pakaian adat pada 16 Februari 2015 mendatang. ”Nanti saya akan pakai pakaian sorjan karena lebih adem dibandingkan beskap,” tandasnya. (fai/ric/ce1)