PENGEDAR SABU: Kepala BNNP Jateng Kombes Pol Sutarmono saat menginterogasi tersangka Sartoni alias Toni dan Sutrisno alias Pak Tris. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PENGEDAR SABU: Kepala BNNP Jateng Kombes Pol Sutarmono saat menginterogasi tersangka Sartoni alias Toni dan Sutrisno alias Pak Tris. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PENGEDAR SABU: Kepala BNNP Jateng Kombes Pol Sutarmono saat menginterogasi tersangka Sartoni alias Toni dan Sutrisno alias Pak Tris. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TAWANG MAS – Lagi-lagi narapidana LP Nusakambangan bisa mengendalikan peredaran narkoba jenis sabu dari balik jeruji penjara. Dua napi penghuni LP narkotika tersebut diketahui bernama Sartoni alias Toni, dan Sutrisno alias Pak Tris. Keduanya mengendalikan peredaran sabu kepada seorang kurir bernama Agung Sedayu Widiyarso (ASW).

Jaringan ini terbongkar setelah kurir ASW berhasil dibekuk oleh tim Intelijen Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, di depan SPBU Sukun Jalan Setiabudi, Semarang. ASW ditangkap saat menumpang bus PO Raya jurusan Pulogadung Jakarta-Solo. Tim intelijen menggeledah ASW, di dalam tas ditemukan sabu seberat 297 gram, dikemas dalam 6 bungkus plastik.

”Tersangka ASW berperan sebagai kurir. Dia mengakui dikendalikan oleh dua narapidana di LP Nusakambangan,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng Kombes Pol Sutarmono, Senin (9/2).

Dijelaskan Sutarmono, kasus ini terungkap setelah Selasa (3/2) lalu, pihaknya menerima informasi dari tim intelijen BNN Jakarta. Bahwa dicurigai ada seorang pria membawa narkotika jenis sabu berangkat menumpang bus PO Raya dari Terminal Pulogadung Jakarta menuju Terminal Tirtonadi Solo.

”Hingga Rabu (4/2) sekitar pukul 04.30, tim intelijen terus membuntuti dan bus tersebut berhenti di depan SPBU Sukun Jalan Setiabudi Semarang. Tim kami langsung menggeledah penumpang. Di antaranya ASW, salah satu penumpang yang duduk di kursi paling belakang,” beber Sutarmono.

Benar saja, petugas menemukan barang bukti sabu seberat 297 gram dikemas 6 bungkus plastik yang disimpan di kotak bedak Herocyn. Hasil pemeriksaan ASW mengaku hanya mengantarkan barang haram tersebut dan disuruh oleh bandar sabu yang saat ini masih menghuni LP Narkotika Nusakambangan Cilacap.

”Kami berkoordinasi dengan Kanwil Hukum dan HAM Jateng telah memeriksa dua napi tersebut. Tepatnya Kamis pukul 01.00, tim kami memasuki LP Nusakambangan.”

Hasil penggeledahan, pihaknya menyita barang bukti 1 buah handphone Smart Fren dari napi Sutrisno, dan 1 handphone Nokia dari napi Sartoni. ”Handphone tersebut digunakan untuk alat komunikasi dan transaksi melalui E-Banking,” beber Sutarmono.

Sartoni sendiri kemudian digelandang dan dipindahkan ke LP Kedungpane Semarang, untuk memudahkan proses lebih lanjut. Sedangkan Sutrisno masih dalam proses pengurusan untuk menyusul dipindah ke LP Kedungpane.

”Dua tersangka bandar sabu di LP Nusakambangan yang merupakan jaringan peredaran sabu dari Nigeria,” katanya.

Sartoni sendiri berperan sebagai bandar yang mencari narkotika jenis sabu dan berhubungan langsung dengan sindikat jaringan Nigeria. Sedangkan Sutrisno berperan sebagai perekrut kurir Agung Sedayu Widiyarso. ”Sutrisno juga yang mengurus atau mengirim uang biaya akomodasi untuk kurir tersebut,” terang Sutarmono.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jateng Asminan Mirza Zulkarnain mengatakan, pihaknya akan terus melakukan evaluasi karena masih ditemukannya narapidana menggunakan handphone di lapas.

”Di LP Nusakambangan sendiri telah dilengkapi jumper untuk mematikan sinyal handphone. Namun para pengedar sabu tersebut selalu mencari celah. Mereka menggunakan gelombang terendah menggunakan jenis handphone tertentu sehingga bisa lolos dari jumper,” katanya. (amu/aro/ce1)