MERUSAK SUNGAI : Warga Desa Siberuk, Kecamatan Tulis, yang melakukan pegerukan sungai dengan melibatkan pihak ketiga dihentikan paksa oleh Satpol PP Batang lantaran merusak lingkungan sungai dan tidak berizin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
MERUSAK SUNGAI : Warga Desa Siberuk, Kecamatan Tulis, yang melakukan pegerukan sungai dengan melibatkan pihak ketiga dihentikan paksa oleh Satpol PP Batang lantaran merusak lingkungan sungai dan tidak berizin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
MERUSAK SUNGAI : Warga Desa Siberuk, Kecamatan Tulis, yang melakukan pegerukan sungai dengan melibatkan pihak ketiga dihentikan paksa oleh Satpol PP Batang lantaran merusak lingkungan sungai dan tidak berizin. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Lantaran tak mengantongi izin untuk melakukan pengerukan sungai (normalisasi) di Sungai Tineb Desa Siberuk, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, kegiatan warga desa setempat terpaksa dihentikan paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Batang.

Menurut Kasie Penegak Perundang-undangan Daerah (Gakda) Satpol PP Kabupaten Batang, Tri Teguh Ridarwanto, penghentian paksa normalisasi sungai tersebut disaksikan oleh petugas Balai Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Wilayah Serayu Utara, di Pekalongan. Kegiatan normalisasi yang dilakukan secara masyarakat, telah merusak lingkungan sungai, terlebih normalisasi tersebut menggunakan alat berat begu.

“Sebelum dilakukan penghentian paksa, Satpol PP bersama dengan Balai ESDM, telah terjun ke lokasi pengerukan untuk melihat langsung,” kata Tri Teguh, Sabtu (7/2) kemarin.

Menurutnya, saat kunjungan mendadak tersebut, beberapa pekerja tengah mengeruk pasir dan batu yang ada di Sungai Tineb Desa Siberuk, Kecamatan Tulis, dengan menggunakan alat berat begu.

“Kami dan pihak Balai ESDM telah meminta alat berat begu, untuk tidak digunakan dan diangkat ke atas. Kegiatan aktivitas normalisasi tersebut telah tidak beroperasi atau sudah berhenti,” katanya.

Tri Teguh juga menandaskan bahwa kegiatan normalisasi tersebut, dilakukan secara swadaya oleh warga dengan melibatkan pihak ketiga dan pengerukan dilakukan pada tiga titik, yakni melintasi Desa Kebumen, Desa Kaliboyo, dan Siberuk. Pengerukan tersebut dilakukan untuk menjamin pasokan air ke persawahan, terutama di Desa Kaliboyo dan Kebumen yang terancam tak terairi oleh sebab kondisi Sungai Tineb.

“Warga beralasan tak punya biaya untuk mengupahi para pekerja, sehingga melibatkan pihak ketiga yang memiliki alat berat. Material hasil pengerukan dijual ke pihak ketiga untuk membayar upah pekerja. Karena tidak berizin ya kami hentikan,” tandas Teguh.

Sementara itu, Kepala Balai ESDM Wilayah Serayu Utara, Hasan Bisri, yang ikut langsung melakukan penghentian pengerukan sungai menyarankan agar warga segera memproses perizinannya.

“Saat ini, sudah tidak ada lagi alat berat, kegiatan pun telah dihentikan. Warga sebaiknya segera mengajukan perizinan yang disampaikan tiga sekaligus, yakni ke Bupati Batang selaku pemilik wilayah, Balai PSDA Pemali Comal, dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah,” jelas Hasan. (thd/ida)