Gus Dur Pejuang Pluralisme Sejati

303
Almarhum KH Abdurrahman Wahid. (DOKUMENTASI)
Almarhum KH Abdurrahman Wahid. (DOKUMENTASI)
Almarhum KH Abdurrahman Wahid. (DOKUMENTASI)

SETIAP menjelang perayaan Sincia atau Perayaan Imlek, sosok mantan Presiden RI almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tak bisa dilupakan. Karena sejak negeri ini dipimpin Gus Dur (1999-2001), warga keturunan Tionghoa diizinkan untuk merayakan Imlek. Gus Dur mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa, serta menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Tak hanya itu, ia juga menjadikan Konghucu sebagai agama resmi negara, sejajar dengan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha.

Gus Dur memang dikenal sebagai pejuang pluralisme sejati. Perjuangannya yang pantang mundur dalam mengusung pluralisme patut dikenang hingga sekarang. Bahkan sebelum meninggal, Gus Dur berpesan: ”Saya ingin di kuburan saya ada tulisan: di sinilah dikubur seorang pluralis.”

Gus Dur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Gus Dur lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakeknya dari pihak ibu, KH Bisri Samsuri, adalah pengajar pesantren pertama yang membuka kelas bagi santri perempuan. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam gerakan nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Ny Hj Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Sebagaimana terdapat dalam buku ”Jejak Sang Guru Bangsa”. Gus Dur mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tian A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, putri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.

Tan Kim Han sendiri, berdasarkan riset seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais, diidentifikasikan sebagai Syeikh Abdul Qodir Al-Shini yang ditemukan makamnya di Trowulan (M. Hamid, 2014,15).

Komitmen Gus Dur memperjuangkan pluralisme melewati ujian yang tidak mudah. Tahun 1995-1997 terjadi kerusuhan ”etno-religius” di Jawa Timur dan Jawa Barat, daerah basis Nahdlatul Ulama (NU), menyebabkan ratusan gereja dan beberapa toko orang Tionghoa dibakar dan dihancurkan. Tujuannya mendiskreditkan Gus Dur bahwa visi Islam toleran yang diusungnya gagal. Merespons kekerasan tersebut, 1997-1998, Gus Dur menciptakan jejaring aktivis muda NU mencegah teror lebih lanjut dengan mengorganisasi patroli keamanan di gereja-gereja dan toko-toko Tionghoa.

Bagi Gus Dur, keberagaman adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Perbedaan merupakan kodrat manusia. Karena perbedaan adalah rahmat, Gus Dur optimistis bahwa keberagaman akan membawa kemaslahatan bangsa dan bukannya persoalan yang memecah bangsa. Gus Dur menandaskan perlunya tiga nilai universal, yakni kebebasan, keadilan, dan musyawarah untuk menghadirkan pluralisme sebagai agen pemaslahatan bangsa.

Humoris
Selain sisi intelektual tinggi dalam agama, perjuangan keadilan dan kebenaran, penegakan demokrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ’memelihara’ pluralisme nusantara, Gus Dur dikenal sebagai sosok humoris. Frasa ’begitu aja kok repot’ Gus Dur menjadi bagian joke sekaligus ciri khas Gus Dur.

Gus Dur adalah orang yang banyak humor. Saat berbicara, dia selalu menyelipkan joke, cerita lucu, yang membuat pendengarnya tertawa. Joke-joke-nya itu disukai oleh banyak tokoh dunia. Salah satu alasan utama mengapa Gus Dur humoris karena dengan berhumor, pikiran menjadi sehat.

Coba simak humor perjalanan Gus Dur saat berada di pesawat kepresidenan bersama Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Presiden Perancis Jacques Chirac ini. Di atas pesawat, ketiga presiden tersebut memamerkan kehebatan negara masing-masing.

Saat itu, di pesawat Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata, ”Wah kita sedang berada di New York. Itu patung Liberty kepegang!” teriak Clinton dengan bangganya.

Nggak mau kalah Presiden Perancis turut menjulurkan tanggan ke luar jendela, ”Tau nggak… Kita sedang berada di atas Kota Paris, menara Eiffel-nya kepegang!” kata Chirac dengan sombongnya.

Gus Dur mesem-mesem dan gantian mengeluarkan tangannya. ”Wah… Kita sedang berada di atas Tanah Abang!” teriaknya. ”Lho kok bisa tahu sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena Gus Dur itu kan nggak bisa melihat.

”Ini buktinya. Jam tangan saya hilang!” teriak Gus Dur memperlihatkan arloji di pergelangan tangannya yang raib di atas langit Tanah Abang. Kedua presiden negara maju itu terpingkal-pingkal dengan humor Gus Dur.

Kini, sepeninggal Gus Dur, upaya melestarikan pluralisme merupakan penghargaan terbesar baginya, jauh lebih besar dari penganugerahan pahlawan nasional yang sedang diusulkan banyak pihak. (dari berbagai sumber/aro/ce1)