Gagal Ikut Lomba, Bersyukur Masih Selamat

156
Puput Puspitasari/RADAR KEDU SELAMAT : Korban bus Maju Makmur, Suryani saat dijenguk kerabatnya di RST dr Soedjono Magelang Minggu kemarin.
Puput Puspitasari/RADAR KEDU
SELAMAT : Korban bus Maju Makmur, Suryani saat dijenguk kerabatnya di RST dr Soedjono Magelang Minggu kemarin.
Kecelakaan di Krincing Secang sepertinya tak akan terlupakan bagi Suryani. Meski ikut tertabrak bus, ia masih selamat. Seperti apa kisahnya?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

Suryani masih gemetar merasakan badannya yang sakit. Kaki kanannya terasa ngilu namun belum diketahui apakah retak atau patah tulang. Yang jelas, dokter memberitahu suaminya, dia akan dioperasi.
Sesekali, perempuan 27 tahun itu melihat tangan kanannya yang melepuh cukup besar. Bahkan kulitnya yang berisi cairan itu hampir menutupi seluruh telapak tangannya. Dia ingat betul, salah memegang knalpot motor panas saat hendak menolong anaknya yang juga jatuh akibat ditabrak bus Maju Makmur Sabtu (7/2) kemarin di Krincing, Secang.
Ibu satu anak yang tinggal di Kampung Kauman, Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang itu berkisah, saat kejadian nahas dia bersama anaknya, Azzahra Syahira W, yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak membonceng gurunya, Siti Nur Khasanah, menuju Krincing. Kepergiannya untuk mengantar anaknya mengikuti lomba.
“Kami diboncengin bu guru. Anak saya di tengah. Saya sempat melihat ada bus yang melaju dari arah berlawanan itu oleng,” katanya, kemarin saat ditemui di salah satu ruang rawat inap RST dr Soedjono Kota Magelang.
Tapi tak lama, dia terjatuh sambil beriringan dengan bunyi brak. Dia tak tahu keberadaan guru anaknya itu. Sementara buah hatinya jatuh tak jauh dari posisinya. Dia yang jatuh ke kanan, berusaha berdiri untuk menolong anaknya.
“Alhamdulillah, anak saya langsung manggil saya dan minta tolong. Bu, kakiku sakit,” ucap dia menirukan suara anaknya kala itu. Anaknya yang baru berusia 6 tahun itu juga tidak menangis. Suryani mengaku lega setelah mendengar suara anaknya.
“Saya bilang kepada anak saya terus untuk berdoa. Alhamdulillah kami masih selamat,” ungkapnya.
Dia menguraikan, sebelum kejadian itu, tak ada firasat apapun. Semua berjalan normal seperti biasanya. Bahkan kata Suryani, semangat anaknya pagi sebelum berangkat tak terbendung.
“Anak saya seneng banget mau ikut lomba. Tapi setelah kejadian, dia tahu kalau nggak jadi ikut lomba, dia sempat kecewa,” jelasnya.
Kendati demikian, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Setelah diingat-ingat, dia sempat menyampaikan kepada guru mengapa lombanya begitu mendadak. Guru itu sempat meminta maaf padanya karena lupa memberitahu.
“Ibu guru sempat bilang sama saya, bu nyuwun ngapunten kulo kesupen nyanjangi mbak Zahra tumut lomba (Bu mohon maaf saya lupa memberi tahu kalau Mbak Zahra ikut lomba, Red). Tapi bu guru bilang lagi, kalau anak saya sudah biasa hafalan jadi mendadak seperti ini insya Allah bisa,” tuturnya.
Dengan mata berkaca, Suryani melanjutkan ceritanya, pupus harapan mendapat juara terus ditepisnya. Namun perjuangan sang guru hingga menemui ajal setelah 2 jam di rawat di UGD, masih menghantuinya.
“Tapi saya tidak ingin trauma. Saya kembalikan lagi sama Allah, ini musibah dan harus saya terima. Kalau trauma, nanti jadi takut ke mana-mana, bagaimana bisa beraktivitas?” akunya.
Ditanya soal harapan kepada perusahaan otobus (PO), dia masih belum bisa memikirkan. Tapi dia kecewa karena belum ada pihak keluarga sopir maupun pihak PO yang bersangkutan datang untuk menjenguknya untuk sekadar tanya keadaan.
“Mau nuntut apa belum tahu. Yang pasti saya sangat ingin keluarga atau PO-nya datang ke sini, kita semua ngobrol baik-baik, supaya kita bisa rembukan,” harapannya.
Sementara itu, Azzahra yang dirawat dalam satu ruang dengan Suryani terlihat ceria. Memang, saat dirawat di UGD sampai masuk ke bangsal, dia terus menangis karena mulai merasakan kakinya sakit. Tapi, saat ini keceriannya sudah kembali setelah dijenguk oleh beberapa teman dan kerabatnya.
“Kemarin mau ikut lomba bercerita. Ceritanya itu tentang semut dan burung merpati, tapi nggak jadi soalnya jatuh. Tapi aku udah pernah dapat piala satu loh,” katanya polos kepada Radar Kedu.
Azzahra mengaku ingin segera berangkat sekolah. Dia merasa sudah rindu dengan teman-teman dan guru-gurunya. “Besok kalau sembuh, aku mau berangkat sekolah lagi kok,” cetusnya. (*/lis)