Disdik Abaikan Dirlantas

144

”Sudah ditandatangani hampir setahun lalu. Namun hingga kini implementasi program tersebut belum maksimal. Artinya, penerapan pembelajaran lalu lintas kepada pelajar belum ada wujud nyata.”
Dirlantas Polda Jateng
Istu Hari Winarto

MUGASSARI – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Tengah mengabaikan wacana pendidikan berlalu lintas menjadi materi pembelajaran di sekolah. Terbukti hingga kini belum menindaklanjuti penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur dan Kapolda Jateng, tentang materi pendidikan lalu lintas di sekolah, pada 2014. Hal itu sangat disayangkan mengingat tingkat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar sangat tinggi.

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Tengah Istu Hari Winarto berharap jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Jateng merespons terkait pendidikan lalu lintas menjadi materi pelajaran sekolah SD hingga SMA di Jawa Tengah. Hal itu sebagai upaya penanganan dan sosialisasi pembelajaran lalu lintas, mengingat masih banyaknya pelajar ugal-ugalan di jalan raya dan masih maraknya aksi balap liar yang didominasi pelajar.

Sejauh ini, implementasi program tersebut belum berjalan maksimal karena minimnya respons pihak sekolah. Padahal, program tersebut telah dilakukan proses nota kesepahaman, atau MoU yang ditandatangani oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Nur Ali. ”Sudah ditandatangani hampir setahun lalu. Saya sendiri juga sudah MoU dengan Kepala Dinas Pendidikan tingkat provinsi, juga berjenjang ke bawah (para Kasat Lantas denga kepala dinas tingkat kota/kabupaten),” ungkap Istu kepada Radar Semarang, kemarin.

Namun demikian hingga kini implementasi program tersebut belum maksimal. Artinya, penerapan pembelajaran lalu lintas kepada pelajar belum ada wujud nyata. Istu berharap kesepahaman yang sudah ditandatangani ini cepat ditindaklanjuti. ”Ini sangat penting mengingat korban kecelakaan lalu lintas di Jawa Tengah cukup tinggi, didominasi usia produktif, termasuk para pelajar,” bebernya.

Dijelaskan Istu, dalam Mou Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Kapolda Jateng Nur Ali yang ditandatangani pada Selasa (13/5) 2014 lalu di Gedung Borobudur, kompleks Mapolda Jawa Tengah. Dijelaskan, secara teknis materi berlalu lintas itu dimasukkan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). ”Saya berharap, pihak sekolah bisa cepat menindaklanjuti. Soal pengajar, kami jamin semua jajaran kami sudah siap. Para Kasat Lantas juga siap mengajar tanpa digaji,” tegas Istu.

Berdasarkan data Polda Jateng, angka kecelakaan 2014 masih terbilang tinggi. Selama tahun 2014 tercatat 2.087 orang tewas, 941 luka berat dan 20.070 luka ringan akibat kecelakaan lalu lintas. Jumlah kecelakaan lalu lintas yang terdata sepanjang 2014 di Jateng ada 15.426 kejadian, menyebabkan kerugian materi sekitar Rp 15,8 miliar.

Terpisah, pengamat transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno menilai, pemerintah harus menata transportasi umum. Mulai dari pelayanan, tarif, hingga infrastruktur. ”Jika transportasi umum telah diminati masyarakat, problem kemacetan, padatnya arus lalu lintas yang menyebabkan rawannya kecelakaan bisa teratasi,” katanya. (amu/zal/ce1)