Jual Bebas Pil Koplo, Apotek Akan Ditindak

158

BARUSARI – Penyalahgunaan obat daftar G atau Gevaarlijk (obat berbahaya) yang diduga diedarkan secara bebas tanpa resep dokter melalui apotek di Kota Semarang menjadi fakta yang mengkhawatirkan. Di antaranya, jenis Trihexyphenidyl dan Dextromethorphan, yang di kalangan kawula muda dikenal dengan sebutan pil koplo. Apalagi para remaja kerap menyalahgunakan kedua pil tersebut sebagai doping penambah nyali. Celakanya, setelah nyali bertambah, mereka tak jarang menjadi si raja tega dalam aksi kriminal di jalanan.

Penyalahgunaan pil koplo juga bisa berakibat fatal. Seperti dialami dua warga Kalialang RT 01 RW 07, Sukorejo, Gunungpati, Semarang yang tewas meregang nyawa setelah menenggak 100 butir pil koplo yang dioplos dengan minuman Sprite. Kedua korban, Eko Riyadi alias Kodok, 30, dan Darwadi alias Monyet, 30. Aparat Reskrim Polrestabes Semarang telah membekuk pemasok pil koplo kepada kedua korban. Tersangka diketahui bernama Muhammad Rafii, 29, warga Genuk, Semarang.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang AKBP Eko Hadi Priyatno tak menampik peredaran pil koplo tak lepas dari manajemen apotek dalam sistem penjualan obat. Sehingga pil daftar G tersebut mudah keluar atau diperjualbelikan secara bebas.

”Harus ada resep dokter. Apotek tidak boleh memperjualbelikan obat daftar G kecuali menggunakan resep dokter,” tegas Eko kepada Radar Semarang, Jumat (6/2).

Pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Semarang untuk melakukan pengawasan khusus terkait peredaran pil koplo melalui apotek.

Dia menegaskan, apotek yang memperjualbelikan obat daftar G tanpa dilengkapi resep dokter bisa diseret ke ranah pidana. ”Peredaran pil koplo juga menjadi fokus kami. Jika diketahui apotek melakukan pelanggaran, kami tak segan memproses hukum,” tegasnya.

Dijelaskan Eko, sebenarnya tidak ada larangan edar untuk obat daftar G asal sesuai dengan fungsi, aturan serta prosedur. Penyalahgunaan terjadi karena unsur kesengajaan manusianya.

”Awalnya obat keras itu fungsi dan kegunaannya baik, tapi karena disalahgunakan jadi tidak baik. Sama seperti inex dan ekstasi, sejarah awalnya di negara Belanda dulu digunakan oleh para peneliti untuk mengobati pasien depresi. Namun dalam perkembangannya, orang-orang sehat malah justru menyalahgunakannya,” bebernya.

Ditegaskannya, apotek yang memperjualbelikan pil koplo tanpa prosedur benar bisa dijerat Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 pasal 196 jo pasal 198 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

”Kami lihat dulu seperti apa? Resep dokternya seperti apa? Bisa juga resep dokter itu palsu, atau dibikin sendiri. Atau bahkan tanpa resep, apotek memperjualbelikan obat berbahaya. Intinya jika ditemukan indikasi pelanggaran, kami akan tindak,” tegasnya. (amu/aro/ce1)