BELUM DITEMUKAN : Tim SAR bersama masyarakat hingga petang kemarin masih mencari korban di Sungai Penconan dan korban M. Mahbub Al Hafid (kanan) bersama kakaknya. (Hanafi/radar semarang)
BELUM DITEMUKAN : Tim SAR bersama masyarakat hingga petang kemarin masih mencari korban di Sungai Penconan dan korban M. Mahbub Al Hafid (kanan) bersama kakaknya. (Hanafi/radar semarang)
BELUM DITEMUKAN : Tim SAR bersama masyarakat hingga petang kemarin masih mencari korban di Sungai Penconan dan korban M. Mahbub Al Hafid (kanan) bersama kakaknya. (Hanafi/radar semarang)

foto A-open 2WEB

PEKALONGAN – Siswa SMA Luar Biasa (SMALB) Negeri Wiradesa, Kabupaten Pekalongan dilaporkan tenggelam di bawah jembatan Sungai Pencongan, Rabu (4/2) petang kemarin. Namun hilangnya korban yang merupakan anak yatim piatu tersebut baru dilaporkan ke pihak Polres Pekalongan Kota, Kamis (5/2) pagi. Sehingga tim SAR gabungan baru diterjunkan melakukan pencarian kemarin pagi.

Korban diketahui bernama M. Mahbub Al Hafid, 16, warga Desa Mayangan, Kecamatan Wiradesa. Menurut Kapolsek Tirto AKP Trismiyanto, kepastian tenggelamnya korban dari pihak desa baru didapatkan pada Kamis pagi. “Kami langsung menghubungi tim SAR dari Sabbara dan sejumlah tim SAR lainnya untuk melakukan pencarian terhadap korban,” katanya.

Sementara itu, Aziz, 43, warga sekitar Sungai Pencongan, Desa Bener, Kecamatan Wiradesa mengungkapkan, dia melihat sebuah sepeda tanpa pemilik di bawah jembatan sisi timur. Dirinya juga melihat seorang anak memakai baju oranye sedang melamun duduk di batu menghadap ke utara di bawah pohon sukun.

Namun tiba-tiba turun hujan lebat, kemudian dirinya berjalan kaki, berteduh di Pos Polisi Pencongan. “Sekitar jam 16.00, setelah hujan agak terang saya mengecek. Saya lihat ada Rahma Maulisya Syafa’ah , 20, sedang menangis mencari adiknya. Ternyata adiknya hilang,” ucap dia.

Ayah angkat korban, Kumaidi, 53 mengatakan, hingga sore tak ada kabar kepulangan anak angkatnya itu. “Sehingga Rabu sore sampai malam kami sudah melakukan pencarian sendiri terhadap korban. Harapannya kan dia (korban) tidak masuk sungai. Sebab saat itu arus memang deras,” terangnya.

Dari data yang dihimpun, korban dikenal sebagai anak yang paling mudah menangkap materi pelajaran yang disampaikan para guru. Sehingga anak ke dua dari dua bersaudara itu dikenal paling pandai. “Anaknya baik dan pandai. Termasuk yang paling gampang menerima pelajaran yang disampaikan guru. Komunikasinya juga paling lancar,” ungkap guru kelas X SMALB Negeri Wiradesa, Erna.

Namun, lanjut dia, belakangan anak pasangan almarhum Hanafi dan Zaroh itu sering bercerita kalau tidak bisa tidur. “Katanya setelah nonton film berjudul 2012, dia tidak bisa tidur. Jadi dia takut kalau pas tidur nanti terjadi bencana, sementara katanya dia masih banyak dosa. Jadi imajinasinya berlebihan,” katanya.

Diungkapkan, sejak Selasa korban tidak berangkat sekolah lantaran memeriksakan kesehatannya di RSUD Kraton. “Sorenya kami dapat kabar kalau Hafid belum pulang itu,” ungkap dia sedih.

Hingga kemarin sore tim SAR gabungan dari berbagai instansi dan elemen masyarakat masih melakukan pencarian di sekitar Sungai Pencongan. Pencarian dihentikan kemarin petang, akibat cuaca yang tidak mendukung, selain hujan juga kondisi sudah gelap. (han/ric)