Pemprov Menyatakan Perang terhadap DBD

197
SIAGA: Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko saat memberikan penghargaan kepada sejumlah daerah berprestasi dalam bidang kesehatan di Jawa Tengah. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
SIAGA: Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko saat memberikan penghargaan kepada sejumlah daerah berprestasi dalam bidang kesehatan di Jawa Tengah. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
SIAGA: Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko saat memberikan penghargaan kepada sejumlah daerah berprestasi dalam bidang kesehatan di Jawa Tengah. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Banyaknya korban meninggal akibat penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah daerah di Jawa Tengah menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov). Melalui Dinas Kesehatan, Pemprov Jateng menyatakan perang terhadap penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini.

”Memang ada peningkatan yang cukup signifikan terkait dengan jumlah penderita DBD di beberapa daerah di Jateng. Kita akan melibatkan masyarakat untuk menanganinya,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo di sela-sela Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Tengah 2015 dengan tema ”Peningkatan Pelayanan Publik Melalui Reformasi Birokrasi Bidang Kesehatan” yang digelar di gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Kamis (5/2).

Yulianto menjelaskan, hingga Januari 2015 tercatat ada 64 kasus DBD dengan angka kematian sebanyak tujuh orang di Kabupaten Brebes. Kendati demikian, kasus DBD paling banyak terjadi di Kabupaten Jepara. Sebab di sana banyak terdapat bak-bak penampungan air untuk merendam kayu ukiran. ”Saat ini belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa karena kurang dari dua kali lipat pada bulan berikutnya,” terangnya.

Diungkapkan Yulianto, fokus utama penanggulangan DBD adalah dengan cara menghilangkan jentik. Jika tidak ada jentik tentu tidak akan ada nyamuk. Jika tidak ada nyamuk maka penyakit DBD tidak akan muncul. Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat untuk memastikan bahwa di rumah masing-masing tidak ada jentik nyamuk.

”Masyarakat dapat memantau langsung pada tempat-tempat penampungan air. Jika menemukan jentik, dapat langsung dikuras. Jika tempatnya terlalu luas dapat diberi obat abate,” bebernya seraya menegaskan bahwa upaya fogging dinilai tidak efektif karena hanya mematikan nyamuk dewasa dan justru membunuh ekosistem lingkungan sekitar.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko menyatakan untuk memerangi penyakit DBD tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Oleh sebab itu, harus melibatkan masyarakat pada suatu daerah masing-masing. ”Saat ini yang diperlukan adalah bagaimana menggugah kesadaran mereka bahwa ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama,” terangnya.

Heru mengaku memberi apresiasi terhadap salah satu desa di Kabupaten Boyolali yang telah menerapkan ronda jentik atau kegiatan pemantauan secara rutin terhadap jentik nyamuk di semua tempat penampungan air. Menurutnya, langkah tersebut sangat efektif sebagai upaya preventif. ”Nantinya kegiatan serupa akan dilakukan di daerah-daerah lain terutama yang banyak penderita penyakit DBD,” tegasnya. (fai/ric/ce1)