Jual Ekstasi, Mahasiswa PTS Dibekuk

141
DIGELANDANG: Empat tersangka peredaran ekstasi dan sabu-sabu saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
DIGELANDANG: Empat tersangka peredaran ekstasi dan sabu-sabu saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
DIGELANDANG: Empat tersangka peredaran ekstasi dan sabu-sabu saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Seorang mahasiswa salah satu universitas swasta di Kota Semarang, M. Mizanul, 24, dibekuk aparat Reserse Narkoba Polrestabes Semarang. Mahasiswa semester 13 asal Pekalongan ini ditangkap karena terlibat mengedarkan narkoba jenis ekstasi.

”Dia berperan sebagai pengguna dan pengedar ekstasi di Semarang,” kata Kapolrestabes Kombes Pol Djihartono saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Kamis (5/2).

Dijelaskan, Mizanul dibekuk di sebuah kamar kontrakan Jalan Patriot I No 47 Kelurahan Purwosari, Semarang Utara pada Kamis (22/1) sekitar pukul 22.00 lalu.

Penangkapan Mizanul adalah pengembangan dari penangkapan tersangka Pepri S, 32. Sarjana asal Pekalongan ini dibekuk Kamis (22/1) sekitar pukul 20.00 di depan Indomaret Jalan Majapahit Semarang. ”Keduanya merupakan jaringan pengedar narkoba,” ujar Djihartono.

Dari tangan Mizanul, pihaknya menyita barang bukti 65 butir pil ekstasi. Sedangkan dari tangan tersangka Pepri, petugas menyita 188 butir pil ekstasi terdiri atas 15 kantong plastik klip kecil berisi masing-masing 10 butir. Selain itu juga disita 5 kantong plastik klip ukuran kecil berisi sabu seberat 4,299 gram dibungkus solasi kuning.

”Ekstasi yang kami sita totalnya 253 butir berbagai macam warna, atau kurang lebih senilai Rp 30 juta,” katanya.
Tidak hanya itu, lanjut Djihartono, pihaknya juga menangkap dua tersangka peredaran narkotika jenis sabu-sabu. Keduanya adalah Arya W, 31, warga Srondol Wetan Semarang, dan Tria A, 22, Jalan Ronggowarsito, Semarang. Arya dan Tria ditangkap di Jalan Pemuda Semarang, depan Kantor Pos Besar Semarang, Jumat (23/1) lalu. Sebanyak 4 kantong plastik klip ukuran kecil berisi sabu 0,5 gram berhasil disita.

”Sudah dilakukan uji Labfor, mereka semua positif. Baik dua tersangka ekstasi, maupun dua tersangka sabu,” ujarnya.
Pihaknya mengaku masih mengembangkan penyelidikan untuk membongkar jaringan pengedar narkoba tersebut. ”Ada yang sudah diedarkan, sebagian digunakan sendiri,” katanya.

Tersangka Mizanul mengaku, hanya dititipi oleh temannya bernama Febri, dan diminta mengantarkan ke suatu tempat. ”Saya baru satu minggu. Sudah mengantarkan 15 kali di tempat terpisah. Sekali mengantar diberi upah Rp 100 ribu,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini.

Setiap kali mengantarkan, ia berkomunikasi melalui handphone. Kemudian diminta menaruh barang haram tersebut di pinggir jalan. Nantinya barang itu akan diambil oleh calon pembeli.

Dia mengaku tidak tahu-menahu siapa pembelinya. Bahkan juga mengaku belum pernah bertatap muka dengan pembeli. Terakhir, ia mengantarkan ekstasi di pinggir jalan dekat Tri Lomba Juang. ”Uangnya sudah habis buat makan,” kata mahasiswa angkatan 2008 ini.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang AKBP Eko Hadi Priyatno mengatakan, ekstasi tersebut didapat dari pengedar asal Jakarta dan Surabaya. ”Masih terus kami telusuri,” ujarnya.

Dikatakannya, sejauh ini peredaran pil ekstasi sempat meredup. Namun kini kambuh lagi. Mengenai sasaran edarnya, pil ekstasi cenderung digunakan oleh pengguna dengan taraf ekonomi menengah ke atas. ”Hanya cukup mahal. Setiap satu butirnya berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu,” katanya.

Lokasi yang sering dijadikan tempat pesta ekstasi adalah room tempat karaoke dan hotel. Untuk menekan peredaran pil berbahaya ini, pihaknya mengaku telah bekerja sama dengan Balai POM, dan para pengusaha tempat hiburan malam. ”Kami terus lakukan koordinasi untuk menekan peredaran narkoba dengan semua pihak terkait,” ujarnya.

Atas perbuatannya, tersangka Mizanul dan Pepri akan dijerat pasal 112 ayat (1) jo pasal 112 ayat (2) UU RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancamannya minimal 5 tahun, dan maksimal 20 tahun, serta denda Rp 800 juta hingga Rp 8 miliar. Sedangkan tersangka Arya dan Tria akan dijerat pasal 112 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukumannya minimal 4 tahun, maksimal 12 tahun penjara serta denda Rp 800 juta. (amu/aro/ce1)