KENDAL – Delapan sekolah percontohan yang bakal disertakan dalam ujian online atau Computer Based Test (CBT) pada UN 2015 ini masih belum siap. Sebab pihak sekolah rata-rata masih bingung untuk menyiapkan perangkat komputer. Padahal sekolah harus menyiapkan komputer minimal 1:3 dari jumlah siswa peserta ujian online. Selain itu, sekolah juga harus menyediakan server jaringan internet dan jumlah kecukupan daya listrik maupun genset untuk mengantisipasi pemadaman listrik saat ujian berlangsung.

Selain persiapan perangkat, sekolah harus membekali guru dan siswa agar siap secara mental untuk mengikuti ujian online dengan online. Yakni dengan mengenalkan dan mengajarkan siswa penggunaan perangkat lunak (software) CBT kepada siswa. Sementara waktu pelaksanaan UN sudah sangat mendesak. Rencananya UN SMA dan SMK dilaksanakan pada April dan SMP di bulan Mei. Tapi delapan sekolah itu, belum menerima pelatihan maupun prosedur operasional standar (POS) Ujinan online.

Kepala Bidang Kurikulum SMP 2 Kendal, Budi Susilo mengatakan, di SMP 2 Kendal baru ada 30 unit komputer. Padahal yang bakal melakukan UN ada sebanyak 211 siswa. “Jika perangkat komputer yang harus disediakan 1:3, maka kami harus menyediakan 70 unit. Jadi masih kurang 40 unit lagi,” katanya, Rabu (4/1).

Untuk masalah kekurangan komputer diakui sampai saat ini belum ada solusi. Justru baru akan dibahas dengan komite sekolah. Hasil rapat nanti baru kemudian dibahas dengan orang tua wali murid. Dengan kata lain, besar kemungkinan kekurangan unit komputer akan dibebankan kepada orang tua siswa untuk membantu sekolah agar ujian online bisa terlaksana. “Ada beberapa alternatif untuk masalah perangkat komputer, yakni beli, pinjam atau memakai laptop siswa,” imbuhnya.

Untuk kesiapan siswa, sudah mulai dilakukan dengan sosialisasi dan akhir Februari. Salah satunya dengan diberikan latihan cara pengenalan dan pelatihan soal dengan sistem CBT. “Kalau latihan soal dengan sistem LJK yg biasa sudah rutin kami laksanakan. Tapi kalau CBT belum,” tambahnya.

Wakil Kepala Sekolah SMP 2 Kendal, Anita Susanti mengatakan, perihal listrik pihaknya mengaku sudah mulai melakukan komunikasi dengan PLN. Yakni agar tidak terjadi pemadaman saat UN berlangsung. “Selama pelaksaan ujian online, daya listrik akan full, sehingga tidak akan ada masalah,” katanya.

Masalah serupa juga dihadapi SMA 1 Kendal. Dari 110 unit komputer yang harus disediakan, sejauh ini baru tersedia 80 unit. Masih kekurangan 30 komputer. Solusinya nanti kemungkinan kami akan pinjam komputer, sehingga tidak membenani siswa. Selain itu juga masih kekurangan dua server komputer dan satu tambahan jaringan internet. “Kalau koneksi internet sudah ada, tinggal menambah jaringan saja sehingga tidak lamban atau sesuai dengan prosedur,”kata Kepala Sekolah SMA 1 Kendal, Sunarto.

Sedangkan Sosialisasi ke anak baru sebatas pemberitahuan, belum tahap pengenalan dan pelatihan. Sekolah sampai saat ini belum menerima petunjuk Pelaksaan dan teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dasar dan Menengah (Kemendikbud Dasmen) RI. “Kami sekolah hanya bisa menunggu saja petunjuk dan perangkat lunaknya,” tambahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono mengaku memang butuh banyak kesiapan ekstra bagi sekolah yang bakal mengikuti ujian online. Jika tidak sanggup sekolah bisa mundur. “Jangan sampai kekurangan perangkat komputer ini nantinya membenani orang tua siswa,” katanya.

Ia menghimbau, tidak boleh menarik pungutan dari orang tua siswa. Jika kekurangan komputer, sekolah bisa pinjam komputer dari sekolah lain. Sementara waktu sampai nanti ada bantuan komputer dari Kemendikbud Dasmen. Muryono membeber delapan sekolah piloting yang harus mempersiapkan diri untuk mengerjakan ujian secara online yakni SMP 1 Weleri; SMP 2 Kendal; SMA 1 Kendal; SMA 1 Boja; SMA Pondok Pesantren Selamat. Kemudian SMK 2 Kendal; SMK 3 Kendal dan SMK NU 1 Kendal. Hal baru dari Kemendikbud Dasmen kini juga mengubah nama UN diubah menjadi Evaluasi Nasional (Enas). “Sedangkan CBT dilaksanakan tapi baru secara piloting saja, belum seluruhnya. Sebab butuh kesiapan baik sarana dan prasarana sekolah serta pengajar dan pelajarnya juga harus disiapkan,” tambahnya. (bud/fth)