PKL Mugas Direlokasi ke Shelter Citarum

148
DILARANG: Shelter di depan GOR Tri Lomba Juang yang seharusnya untuk memfasilitasi masyarakat utamanya pengguna GOR justru digunakan untuk PKL. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
DILARANG: Shelter di depan GOR Tri Lomba Juang yang seharusnya untuk memfasilitasi masyarakat utamanya pengguna GOR justru digunakan untuk PKL. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
DILARANG: Shelter di depan GOR Tri Lomba Juang yang seharusnya untuk memfasilitasi masyarakat utamanya pengguna GOR justru digunakan untuk PKL. (Adityo Dwi/Radar Semarang)

MUGASARI – Pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini menempati depan GOR Tri Lomba Juang, akan dipindah ke shelter Citarum. Sebab, area tersebut nantinya akan difungsikan sebagai tempat istirahat para pengunjung GOR.

Dari pantauan Radar Semarang, di lapangan, Rabu (4/2) kemarin, trotoar dan shelter di area GOR Tri Lomba Juang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Namun dimanfaatkan para PKL khususnya jasa tambal ban.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko mengungkapkan, akan melakukan penertiban PKL yang masih beroperasi di kawasan GOR Tri Lomba Juang atau yang lebih dikenal dengan GOR Mugas tersebut. Karena titik tersebut merupakan kawasan larangan bagi PKL.

”Sekarang ini shelter yang sudah dibangun itu telah dialihfungsikan sebagai tempat untuk beristirahat masyarakat yang menggunakannya. Kalau masih ada PKL yang membuka lapak apalagi memanfaatkan shelter sebagai tempat PKL, akan kami tindak,” ungkapnya kepada Radar Semarang, kemarin.

Pihaknya juga telah menyiapkan tempat relokasi bagi para PKL utamanya yang membuka jasa tambal ban di shelter Citarum. Mengingat kondisi shelter Citarum sampai saat ini belum optimal. ”Rencananya kami akan segera siapkan tempat di shelter Citarum, hal ini juga sudah kami koordinasikan bersama para PKL,” terangnya.

Pengunjung GOR Tri Lomba Juang, Samudi, 47 mengaku keberatan dengan fasilitas yang seharusnya untuk istirahat pengunjung GOR tapi justru digunakan untuk PKL. ”Saya berharap, dinas pasar tegas dalam menegakkan aturan. Karena hal ini dapat menjadi kecemburuan, kalau dibiarkan secara terus-menerus para PKL yang sudah menaati peraturan akan kembali untuk membuka lapak di tempat yang dulu mereka tempati,” pungkasnya. (mha/zal/ce1)