Mahasiswa Australia Ikut Buat Jamban

223
ANTUSIAS: Mahasiswa dari Queensland University of Technology (QUT) Australia, nampak antusias membangun jamban bagi keluarga tidak mampu di Kelurahan Wates kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Mahasiswa dari Queensland University of Technology (QUT) Australia, nampak antusias membangun jamban bagi keluarga tidak mampu di Kelurahan Wates kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
ANTUSIAS: Mahasiswa dari Queensland University of Technology (QUT) Australia, nampak antusias membangun jamban bagi keluarga tidak mampu di Kelurahan Wates kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

WATES – Masih banyak keluarga kurang mampu di wilayah pinggiran Kota Semarang yang tidak memiliki jamban. Seperti di sejumlah wilayah Kelurahan Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Gunungpati. Kondisi memprihatinkan tersebut mengundang empati dari sejumlah kalangan, termasuk warga asing.

Seperti yang ditunjukkan oleh sepuluh mahasiswa asing dari Queensland University of Technology (QUT) Australia, kemarin (4/2). Dalam kegiatan Developing International Health Experience in Central Java, mereka meninjau proses pembuatan jamban amfibi yang dibangun oleh rotary club di Kelurahan Wates, Ngaliyan dan Kecamatan Gunungpati. Para mahasiswa ini pun nampak antusias, bahkan tak segan terjun langsung untuk mencangkul guna membuat lubang septic tank.

Penggagas konsep jamban amfibi, Budi Laksono, mengatakan, masih banyak keluarga yang kurang mampu tidak memiliki jamban. Sebelumnya pihaknya bersama rotary dan Pemkot Semarang telah membangun sebanyak 3.449 jamban di empat kecamatan yakni Banyumanik, Tembalang, Pedurungan, dan Ngaliyan. ”Model jamban ini saat ini menjadi pembahasan di Australia. Dulunya model ini dari tesis yang saya buat. Jamban amfibi ini, adalah jamban yang sangat murah, sehat dan mudah pembuatannya,” katanya, kemarin.

Menurut dia, jamban sehat ini harus dibangun minimal 10 meter dari sumber air dengan kedalaman lubang 1,5 meter. Jamban amfibi ini, terdiri atas plat beton yang di atasnya langsung ditutup closed. ”Awalnya kami membuat 1.500 jamban di Mijen dan Gunungpati, program ini akan terus dilakukan lantaran masih tercatat 20 juta warga Indonesia yang belum memiliki jamban,” ujar pendiri dari Yayasan Wahana Bakti Sejahtera ini.

Sementara itu, Kealy, salah satu mahasiwa dari Queensland University of Technology Australia mengaku sangat terkesan dengan usaha yang dilakukan pemerintah. Dirinya pun sangat berempati dengan keadaan warga yang kurang mampu sehingga rentan terkena penyakit. ”Bentuk empati dari kami adalah membantu mereka secara tenaga, selain itu kami juga memberikan donasi sebesar 222 dolar Australia yang nantinya didonasikan untuk pengembangan program jambanisasi ini,” ujarnya. (den/zal/ce1)