Klaim, Pakaian Bebas Bakteri

114
TETAP DICARI: Sejumlah pengunjung tengah memilih pakaian impor bekas di salah satu pusat penjualan pakaian di Kota Semarang kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TETAP DICARI: Sejumlah pengunjung tengah memilih pakaian impor bekas di salah satu pusat penjualan pakaian di Kota Semarang kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TETAP DICARI: Sejumlah pengunjung tengah memilih pakaian impor bekas di salah satu pusat penjualan pakaian di Kota Semarang kemarin. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

BANYUMANIK – Rilis Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI bahwa pakaian impor bekas membawa bakteri mikrobiologis yang bisa menyebabkan kulit gatal-gatal hingga terkena penyakit saluran kelamin membuat resah para pedagang pakaian second tersebut. Mereka menilai hal itu sebagai pengalihan agar produk dalam negeri tidak tersingkir.

Amzar Caniago, pemilik lapak pakaian impor bekas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Banyumanik dengan tegas menentang pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) tersebut. Pasalnya, selama 20 tahun menekuni bisnis tersebut, tidak ada keluhan apa pun mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkan.

”Kalau terbukti barang dagangan saya membawa bakteri, pasti tidak akan dicari konsumen. Bahkan omzet penjualan pakaian bekas di tempatnya tidak pernah surut, justru terus berkembang. Pelanggan loyal jarang absen setiap bulan,” katanya kepada Radar Semarang

Pihaknya justru menuding Mendag yang ketakutan jika produksi pakaian dalam negeri tersingkir. Hal ini pernah kejadian lima tahun silam. ”Waktu itu, Bandung sedang gencar-gencarnya menjual pakaian bekas pakai dari negara-negara tetangga. Bahkan ada satu pasar besar yang khusus menjual barang-barang tersebut lantaran banyak peminatnya. Nah, tak lama setelah itu, tidak sedikit produsen kaus Bandung yang gulung tikar. Saat itu juga tersebar berita kalau pakaian bekas ini menyebarkan penyakit, terutama masalah kulit,” papar Amzar.

Menurutnya, hasil uji laboratorium Kementerian Perdagangan RI bisa jadi akal-akalan pemerintah pusat agar ada larangan penjualan pakaian bekas impor. Pasalnya, selama ini pasokan impor di sektor ini cukup besar, khususnya di daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

”Paling itu hanya berita pengalihan saja agar masyarakat lebih memilih pakaian produksi dalam negeri. Tapi agaknya konsumen tidak kalah pintar. Mereka tetap enggan membeli pakaian lokal yang kualitasnya rendah. Gampang robek-robek atau warnanya luntur,” ujarnya berpromosi.

Sama-sama dibanderol mahal, tidak sedikit konsumen yang lebih memilih pakaian bekas tapi bermerek ketimbang gress tapi kurang berkualitas. Di lapak milik Amzar, beberapa jaket, kemeja, sweeter, dan celana dengan brand ternama yang orisinil dipatok antara Rp 100 ribu-Rp 200 ribu. Kalau yang merek-merek yang kurang terkenal, hanya dijual Rp 5 ribu.

Meski terkenal menjual busana bekas, pihaknya juga menyediakan yang gress. Terutama hasil produksi Jepang dan Korea. Amzar mengaku mendapat barang tersebut bukan dari impor langsung, tapi mengambil dari salah satu sentral pakaian impor bekas di Kota Bandung.

Pihaknya membeberkan, pelanggan yang hampir saban bulan belanja justru kalangan menengah ke atas yang tahu soal kualitas merek ternama. Bukan dari warga biasa yang mencari pakaian bekas lantaran tidak mampu beli yang baru.

Memang dari pantauan Radar Semarang, tidak sedikit pembeli yang bermobil. Ada juga beberapa kaum Tionghoa tampak memilih-milih pakaian di lapak milik Amzar. Salah satunya Rudy Purnama. Pria yang tinggal di Klipang, Sendangmulyo, Tembalang ini mengaku tidak takut dengan isu pakaian impor bekas yang bisa menularkan penyakit kulit. Dia berkilah, sudah hampir lima tahun ini tidak pernah mengalami gangguan seperti yang digembar-gemborkan.

”Syukur tidak terkena penyakit kulit seperti yang diberitakan di media massa. Biasanya habis beli, langsung dicuci dua kali. Selain menghilangkan bau, kadang ada noda-noda bandel yang susah dibersihkan,” ujarnya.

Padahal, pemerintah melalui Kemendag mengimbau masyarakat untuk tidak membeli pakaian bekas impor. Dari hasil uji laboratorium, terdapat sekitar 261 ribu berbagai bakteri yang bisa membuat kulit gatal-gatal sampai terkena penyakit saluran kelamin. Hal itu berdasarkan uji laboratorium terhadap pakaian bekas yang dilakukan selama satu tahun dengan sampel pakaian bekas dari Jakarta.

Meski begitu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng Yulianto Prabowo mengaku belum ada uji laboratorium yang mengambil sampel dari pakaian impor bekas yang dijual di Jateng. Menurutnya, memang ada kemungkinan tumbuhnya jamur pada pakaian yang disimpan di tempat lembab. Jika dibiarkan, jamur tersebut bisa menjadi bakteri yang mengancam kesehatan kulit si pemakai.

Ironisnya, jamur tersebut kadang tidak bisa hilang meski melewati pencucian. ”Matinya kalau disterilkan dengan cara proses pemanasan pada suhu tertentu,” ungkapnya.

Pihaknya menambahkan, belum ada wacana untuk meneliti pakaian impor bekas lantaran sedang fokus menggarap produk makanan dan minuman di pasaran yang mengandung bahan kimia dan pewarna tekstil. ”Mungkin beberapa universitas bisa membantu meneliti bakteri di pakaian bekas,” cetusnya.

Kasubag UPT Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro (Undip) Sidohartono mengaku, meski mengetahui kasus ini, tidak ada rencana untuk menguji di laboratorium. Dia menunggu instruksi dari Dinkes.

”Dosen-dosen di sini (Undip, Red) tidak ada yang tertarik untuk meneliti itu. Soalnya belum ada pengaduan dari konsumen Semarang. Sementara ini biar menjadi urusannya pemerintah saja,” katanya. (mg16/den/aro/ce1)