SEMARANG-Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, M Iqbal Wibisono menangis saat menyampaikan pembelaan dalam sidang lanjutan atas kasusnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Rabu (4/2). Usai pembacaan pembelaan dari penasehat hukum, Iqbal terlihat mengusap mata dan pipinya memakai telapak tangan.

Iqbal hadir dalam sidang beragendakan pembelaan (pleidoi) sebagai terdakwa dalam kasus dugaan korupsi dana bansos pengembangan dan peningkatan pendidikan Provinsi Jateng tahun 2008 untuk Kabupaten Wonosobo. Kepada majelis hakim, Iqbal menyampaikan pembelaan singkat secara lisan sambil terbata-bata usai meneteskan air mata. Kepada majelis hakim yang diketuai Hastopo, Iqbal mengatakan, ia taat secara hukum, karena menuju jalan keinsyafan. Ia juga mengaku tidak tahu menahu kalau dana sebesar Rp 60 juta yang diterimanya berasal dari pemotongan bansos.

“Saya mohon keringanan hukuman majelis, semua perbuatan adalah akibat dari hal yang tidak saya sadari. Berikanlah hukum seringan-ringannya dan seadil-adilnya,” kata Iqbal.

Kepada majelis hakim, Iqbal beralasan, perbuatan pemotongan dana itu tidak diketahuinya. Meski demikian, ia mengaku siap bertanggungjawab sebagai petinggi Partai Golkar Jateng. “Meski saya tidak mengetahuinya, secara moral itu tanggungjawab saya. Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya,” pintanya.

Sementara dalam pembelaan penasehat hukumnya, Theodorus Yosef Parera meminta kepada majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang untuk membebaskan Iqbal dari semua semua dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Tim penasihat hukum tidak sependapat dengan jaksa yang menuntut Iqbal selama 1 tahun 4 bulan penjara. Namun menurutnya, tuntutan itu sudah menunjukan penerapan keadilan yang benar.

“Memang benar terdakwa Iqbal telah menerima uang dari Gatot Sumarlan sebesar Rp 50 juta dan Rp 10 juta secara tunai pada 2008. Hanya saja, Iqbal tidak mengetahui asal uang tersebut,” kata Yosef dalam pembelaannya.

Dia menambahkan, terdakwa telah mengembalikan uang senilai Rp 80 juta kepada Gatot Sumarlan pada 2010. Pengembalian itu dilakukan pada saat ia mengetahui bahwa uang yang diterimanya adalah uang hasil pemotongan bansos yang dilakukan Gatot.

Pengembalian uang itu, lanjutnya, dilakukan di depan saksi Heru Irianto, selaku ketua Partai Golkar Wonosobo, yang merupakan atasan Gatot. Pengembalian uang dilakukan pada 2010 atau 2 tahun sebelum Iqbal ditetapkan sebagai tersangka bahkan penyelidikan dan penyidikan terhadap dirinya belum dimulai.

“Perbuatan Iqbal bisa dikatakan benar, baik dan patut. Oleh karenanya, terdakwa tidak terbukti bersalah, sehingga benar, baik dan patut untuk membebaskan terdakwa dari semua dakwaan dan tuntutan JPU,” jelasnya. (mg21/ton)