DIJEBOL PAKSA : Kades Kebonagung, Andi Kristiyanto di atas trotoar Jalan Bahurekso Kabupaten Pekalongan yang terpaksa dijebol warga, lantaran menjadi penyebab banjir, Selasa (3/2) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
DIJEBOL PAKSA : Kades Kebonagung, Andi Kristiyanto di atas trotoar Jalan Bahurekso Kabupaten Pekalongan yang terpaksa dijebol warga, lantaran menjadi penyebab banjir, Selasa (3/2) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
DIJEBOL PAKSA : Kades Kebonagung, Andi Kristiyanto di atas trotoar Jalan Bahurekso Kabupaten Pekalongan yang terpaksa dijebol warga, lantaran menjadi penyebab banjir, Selasa (3/2) kemarin. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

KAJEN–Menjadi biang kerok banjir, trotoar yang baru dibangun di Jalan Raya Bahurekso Desa Kebonagung Kecamatan Kajen, terpaksa dijebol. Menyusul banyaknya keluhan warga atas pembangunan trotoar di atas saluran air dengan biaya miliaran rupiah.

Kades Kebonagung, Andi Kristiyanto mengatakan trotoar yang selesai dibangun pada Desember 2014 itu dikeluhkan warga, lantaran menjadi menhalangi aliran air. Sejak curah hujan mulai tinggi awal tahun 2015, sejumlah rumah warga di Dukuh Sibedug Desa Kebonagung, terutama di Jalan Bahurekso selalu tergenang air. “Untuk meminimalisasi banjir, pembongkaran trotoar terpaksa dilakukan,” terangnya, Selasa (3/2) kemarin.

Menurut Andi, sebelum pembongkaran dilakukan sejumlah warga juga sudah mengeluh. Sebab, pembangunan saluran air di bawah trotoar tersebut terlalu dangkal, sehingga tidak bisa menampung volume air yang membeludak saat musim penghujan. Bukan hanya ke permukiman warga, saluran air itu menyebabkan air mengalir ke jalan raya yang mengganggu para pengguna jalan.
“Semestinya, pembangunan saluran pembuangan air yang di atasnya untuk trotoar, disesuaikan dengan kondisi. Misalnya pembuangan air untuk kalangan rumah tangga atau lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, katanya, sisa material proyek seperti kayu bekas cor juga tidak dibersihkan oleh pelaksana proyek. Hal itu mengakibatkan, aliran air tersumbat. Bahkan, , pelaksana proyek juga tidak membetulkan lampu PJU yang kabelnya terputus akibat terkena alat berat saat melakukan pengerukan tanah. “Ada juga kanopi rumah warga yang rusak karena pekerjaan tersebut, tidak kunjung dibenahi. Harusnya, begitu pekerjaan selesai, semua kegiatan yang melibatkan warga diselesaikan terlebih dahulu,” jelasnya.

Sementara itu, seorang warga, Suharto, 50, mengatakan bahwa saluran pembuangan air yang tertutup trotoar menjadi penyebab terjadinya banjir yang selama ini menggenang di rumahnya. “Sudah sempit, tertutup lagi. Kalau dulu, ketika saluran tersumbat langsung bisa diatasi, mungkin ada sampah yang mengganggu. Kalau sekarang ya susah, wong sempit dan tertutup begitu,” jelasnya. (hil/ida)