TEMANGGUNG— Tiga pengguna sekaligus pengedar ganja dibekuk Polsek Temanggung. Tersangka bernama Ari, Djuwaris, dan Dwi Andriyanto.
Awalnya, polisi menangkap Ari, 28, di rumahnya, di Jampiroso. Di rumah Ari, polisi menemukan satu linting kertas berisi ganja. Tidak hanya itu. Di atas pintu, polisi juga menemukan satu bungkus kantong plastik berisi ganja.
Kepada polisi, Ari bernyanyi bahwa ganja tersebut dibeli dari tangan Dwi Andriyanto, 20, warga Dusun Sroyo, Desa Madureso, Temanggung. Sedangkan Aris, 30, yang bertugas sebagai perantara, merupakan warga Kampung Butuh, Kelurahan Butuh, Temanggung.
Ari mengaku menjadi pengguna narkoba sejak 2009 silam. Namun, ia mengakui, baru sekali membeli ganja dari Aris dan Andriyanto. “Saya pakai untuk konsumsi sendiri. Dalam sebulan sekali, pasti saya membeli satu paket ganja. Harganya Rp 50 ribu.” Ganja dibeli via pesan singkat. Setelah itu, ganja diambil di salah satu rumah dua penjual tersebut.
Tersangka Aris, kepada petugas, mengaku hanya sebagai perantara. Selama ini, ia hanya memberikan ganja kepada orang-orang tertentu saja. “Saya dapat barangnya dari Andriyanto. Saya juga tidak menjual pada sembarang orang. Cuma pada orang-orang tertentu.”
Kepala Sub-Bagian Humas Polres Temanggung AKP Heni Widiyanti Lestariningsih mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyelidikan, ketiga tersangka terlibat dalam perdagangan narkotika golongan I, yakni ganja. “Mereka resmi menjadi tersangka dan mendekam di ruang tahanan Polres Temanggung untuk menunggu proses hukum selanjutnya.”
Dikatakan, dari tangan tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti. Antara lain, satu bungkus kertas koran berisi batang, daun, dan biji kering tanaman ganja dengan berat kotor 40,73 gram. Juga satu linting kertas sigaret batang, daun, dan biji kering ganja, dua telepon seluler, dan satu unit sepeda motor.
Ketiganya bakal dijerat pasal 111 ayat (1), subsider pasal 114 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Mereka diancam dengan pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 12 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 800 juta dan paling banyak Rp 8 miliar.” (mg3/isk)