Empat Pengurus Cabor Diperiksa

160

KALIBANTENG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang kembali memanggil empat saksi dalam kasus dugaan korupsi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Semarang yang menyeret Djody Aryo Setiawan sebagai tersangka, Selasa (3/1). Para saksi hadir mulai pukul 09.43 hingga 16.00. Sebelumnya, pada Senin (2/2) lalu, penyidik Kejari Semarang menggeledah kantor KONI Kota Semarang di kompleks Stadion Citarum.

”Hari ini (kemarin, Red) kami memanggil empat saksi, dan keempatnya hadir. Mereka dari pengurus cabang olahraga (cabor) dan pengurus KONI Kota Semarang,” kata Kasi Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejari Kota Semarang, Arifin Arsyad.

Arifin menjelaskan, penggeledahan di kantor KONI, dilakukan oleh tim penyidik berjumlah 4 orang mulai pukul 10.00 hingga 17.00. Penyidik mencari bukti-bukti terkait kasus dugaan korupsi dana hibah yang diterima KONI Kota Semarang. ”Ada beberapa dokumen yang disita penyidik, di antaranya terkait laporan keuangan, dan uang sekitar Rp 17 juta lebih. Paling banyak disita dokumen,” ujarnya.

Ditanya kapan akan melakukan pemanggilan terhadap tersangka, Arifin mengaku belum mengagendakan. ”(Pemanggilan) Tersangka KONI belum diagendakan, kami masih fokus pemanggilan saksi cabang olahraga, karena ada 40-an cabor. Besok (hari ini) ada lagi saksi yang akan dipanggil,” katanya.

Dari daftar absen yang ada di kantor Kejari Semarang, keempat saksi yang diperiksa kemarin adalah Atik Kusmiati mewakili KONI Kota Semarang, Sudibyo cabor bola basket, S Agung N cabor judo dan Siswoyo cabor pencak silat.

Juru bicara KONI Kota Semarang Slamet Budi Utomo membenarkan sejumlah penyidik Kejari Semarang memeriksa berkas-berkas di Kantor KONI Semarang Kompleks Stadion Citarum. ”Beberapa hari ini sejumlah pengurus dimintai keterangan oleh kejari. Penyidik datang ke kantor KONI bagian dari pegembangan kasus tersebut,” jelasnya.

Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi ini bermula dari aliran dana hibah ke KONI Kota Semarang pada 2012 sebesar Rp 7 miliar, yang dipergunakan Rp 5 miliar. Sedangkan sisanya dikembalikan ke kas daerah pada Desember 2012. Adapun dana hibah pada 2013 besarnya Rp 12 miliar, dan dipergunakan semuanya. Diduga dana hibah tersebut ada yang diselewengkan oleh tersangka. Hasil perhitungan sementara internal tim penyidik kejari, kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 2 miliar. (mg21/aro/ce1)