Desa Kirim Dua Pelajar Terbaik untuk Dididik Jadi Mahasiswa Siap Kerja

431
Para dosen saat rapat bersama membahas rencana perkuliahan semester dua di AKN Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Para dosen saat rapat bersama membahas rencana perkuliahan semester dua di AKN Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Para dosen saat rapat bersama membahas rencana perkuliahan semester dua di AKN Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

KEBERADAAN Akademi Komunitas Negeri (AKN) menjadi tumpuan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang handal di Kabupaten Demak. Lembaga pendidikan vokasi yang dirintis sejak 2014 ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Pemkab Demak.

WAHIB PRIBADI, Demak

Karena itu, berdirinya AKN ini menjadi prestasi luar biasa bagi Pemkab Demak dibawah kepemimpinan Bupati Demak, Drs H Dachirin Said SH MSi. Sebab, untuk mendirikan AKN ini dinilai tidak semudah membalik telapak tangan. Ini karena tidak semua daerah ada AKN. Di Jateng hanya di Demak dan Pekalongan. Karenanya butuh perjuangan yang intensif hingga akhirnya AKN terwujud di Kota Wali ini.

Bupati Dachirin Said mengatakan, sementara ini AKN masih menginduk di Politekhnik Negeri Jakarta (PNJ). Meski demikian, dalam dua tahun nanti AKN ditargetkan bisa beroperasi secara mandiri. Selain dari mahasiswa umum, AKN setingkat D2 ini juga akan menerima pelajar lulusan SLTA yang dikirim oleh masing-masing desa untuk dididik di kampus tersebut.

Pelajar dari desa ini akan dibiayai melalui alokasi dana desa (ADD). Untuk masa pendidikan 2 tahun atau 4 semester, setidaknya dibutuhkan total biaya Rp 10 juta per mahasiswa dengan rincian Rp 2,5 juta per semester per mahasiswa. “Kita berusaha menyiapkan SDM ditingkat desa diantaranya melalui pendidikan di AKN. Karena itu, mahasiswa yang dikirim pihak desa selain menjalani kuliah juga bisa membantu berbagai kegiatan di desa terkait,” katanya.

Mereka yang dikuliahkan di AKN, harus menandatangani perjanjian bahwa setelah kuliah tetap mengabdi di desa. Sekda Pemkab Demak, dr Singgih Setyono MMR menambahkan, Pemkab Demak mendirikan AKN diantaranya untuk mengatasi para lulusan SLTA yang tidak tertampung di perguruan tinggi (PT). Di Demak ini, kata dia, setiap 3 ribu lulusan SMA/SMK yang masuk ke PT, hanya sekitar seribu yang tertampung. Sedangkan, sisanya tidak diketahui melanjutkan kemana. “Karena potensi itu, maka dibuatlah akademi sekelas D2 ini,” katanya.

Lembaga ini berkonsentrasi pada pembelajaran terapan agar bisa mencetak tenaga ahli dibidangnya. Ketua Prodi Desain Grafis AKN Demak, Hadi Waluyo mengatakan, perkuliahan di AKN telah berjalan satu semester dengan total 94 orang mahasiswa. Untuk perkuliahan semester dua mulai berlangsung 16 Februari mendatang. AKN sementara ini baru ada tiga prodi.

Yakni, Desain Grafis, Jasa Pariwisata dan Tekhnik Kendaraan Ringan. Kedepan, akan ditambah satu lagi prodi, yaitu Akutansi. Ini supaya lulusan akutansi AKN nanti bisa membantu pendampingan administrasi di setiap pemerintahan desa. “Sekarang ini baru ada 4 ruang kelas yang digunakan untuk belajar mahasiswa,” kata Hadi Waluyo yang juga menjabat Kepala Kantor Diklat dan Litbang Pemkab Demak.

Menurutnya, dengan prodi yang ada diharapkan, AKN bisa mencetak mahasiswa yang langsung siap bekerja disektor yang dibutuhkan daerah. Untuk jumlah mahasiswa saat ini memang masih belum banyak. Meski demikian, dari sisi kualitas, tetap lebih unggul karena pengajarnya merupakan dosen negeri. “Kita berharap, untuk mahasiswa tahun ajaran 2015/2016 nanti bisa lebih banyak lagi. Sebab, setiap desa telah siap mengirimkan putra terbaiknya untuk dididik di AKN ini. Mereka dibiayai dari ADD hasil kerjasama setiap desa dengan Bapermas KB. Mereka juga akan diberikan pelatihan-pelatihan melalui pengabdian masayarakat,” imbuhnya.

Hadi Waluyo menambahkan, adanya AKN merupakan bentuk komitmen bersama antara Bupati Dachirin Said, Sekretaris Daerah (Sekda) dr Singgih Setyono MMR dan Ketua DPRD Demak waktu itu KH Mukhlasin. Tanpa adanya komitmen itu, AKN sulit terwujud. Sebab, semua persyaratan pendirian AKN harus diverifikasi Dirjen Dikti. “Untuk mengurus izin mendirikan AKN ini tidak mudah. Karena itu, dibentuk tim khusus untuk mengurus AKN ini. Jadi, AKN ini termasuk terobosan yang bagus untuk Demak,” tambahnya.

Setelah resmi berdiri, Pemkab Demak berkomitmen untuk membesarkan AKN. Diantaranya dengan mengarkan dana sebesar Rp 5 miliar untuk pembangunan gedung dan Rp 1 miliar untuk operasional. Tahap pertama gedung perkuliahan yang menempati eks gedung Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) Jalan Sultan Trenggono Kota Demak akan dibongkar dan dibangun dengan gedung baru. Lahan di SKB itu mencapai 2,4 hektare. Sedangkan, lahan lainnya yang telah disiapkan didepan SMKN 2 Demak, Kelurahan Mangunjiwan, Kecamatan Demak Kota, luasnya mencapai 8,4 hektare.

Tak hanya itu, AKN Demak juga akan mendapatkan dana dari Dirjen Dikti untuk pengembangan tahap awal. Pemkab Demak hanya berperan untuk membidani AKN. Bila nanti sudah bisa mandiri, termasuk dari sisi tenaga pengajar dan tenaga kependidikan, AKN akan dilepas dan beroperasi langsung dibawah Dirjen Dikti. “Saat ini status AKN adalah pendidikan di luar domisili. Karena itu, mahasiswanya masih tercatat sebagai mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Meski begitu, AKN yang berstatus peguruan tinggi negeri (PTN) menguntungkan Kabupaten Demak. Ini sekaligus memberikan kesempatan bagi putra daerah untuk bisa menikmati kuliah dengan kualitas yang tidak diragukan. Disini akan tercipta SDM yang handal dan berkualitas,” tambahnya.

Untuk mengentaskan kemiskinan salah satunya bisa dilakukan melalui pendidikan yang berkualitas. Dengan demikian, bisa tercipta lapangan kerja di daerah. “Bapak Bupati telah memberikan fondasi pendidikan yang berkualitas, yakni adanya AKN. Ini karya nyata beliau. Dengan adanya AKN, pendidikan dapat dinikmati putra daerah, tentunya sesuai dengan visi misi pemerintah,” tambahnya. (*/fth/adv)