BPJS Targetkan 23,8 Juta Peserta Baru

124
TARGET BESAR: Tahun 2014 lalu, BPJS Kesehatan mampu meraih 20,7 juta peserta baru. Di tahun 2015 ini, BPJS Kesehatan menaikkan target yakni meraih 23,8 juta peserta baru. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TARGET BESAR: Tahun 2014 lalu, BPJS Kesehatan mampu meraih 20,7 juta peserta baru. Di tahun 2015 ini, BPJS Kesehatan menaikkan target yakni meraih 23,8 juta peserta baru. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TARGET BESAR: Tahun 2014 lalu, BPJS Kesehatan mampu meraih 20,7 juta peserta baru. Di tahun 2015 ini, BPJS Kesehatan menaikkan target yakni meraih 23,8 juta peserta baru. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Di tahun 2015 ini, BPJS Kesehatan menargetkan 23,8 juta peserta baru. Target ini naik sebesar 3,1 juta dibandingkan tahun lalu yang bisa meraih 20,7 juta peserta baru.

Kepala BPJS Kesehatan Drive IV, Andayani Budi Lestari, mengatakan dengan target besar tersebut, berbagai upaya dilakukan. Salah satunya, advokasi ke Pemerintah Daerah otomatis semakin digencarkan dengan tujuan agar menjangkau masyarakat miskin atau tidak mampu. “Peserta mandiri tercatat 977 ribu pada tahun lalu. Walaupun sedikit angka tersebut masuk dalam angka sakit yang cukup tinggi,” katanya, kemarin.

Menurut dia, untuk merealisasikan target yang dicanangkan. Peran pemerintah daerah sangatlah vital, dan harus lebih aktif dalam menjumlah warga miskin yang belum tercover oleh pemerintah pusat. “Di sini Pemerintah Daerah diminta mengalokasikan anggaran untuk membiayai program kesehatan bagi warga miskin atau tidak mampu,” jelasnya.

Terpisah, Kabid Pelayanan dan Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Djoko Mardiyanto memaparkan jika tercatat sudah ada 11 kabupaten dan kota yang sudah tergabung dalam program BPJS Kesehatan. “Walaupun sudah banyak daerah yang masuk dalam program tersebut, namun program perlindungan kesehatan masih perlu diperbaiki lagi. Contohnya saja pelayanan bagi peserta BPJS Kesehatan,” timpalnya.

Contoh sederhana, menurut dirinya adalah antrean panjang untuk pasien rawat jalan ataupun rawat inap yang akan membuat ketidaknyamanan pasien. “Perubahan sistem harus diperbaiki demi kenyamanan pasien. Fasilitas kesehatan seperti puskesmas pun harus dibenahi agar para pasien mau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama,” tandas Djoko. (den/smu)