Sakit, Harini Batal Diperiksa

200
Harini Krisniati. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
Harini Krisniati. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
Harini Krisniati. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

KALIBANTENG – Tersangka kasus dugaan korupsi program Semarang Pesona Asia (SPA) 2007, Dra Harini Krisniati untuk kali kedua dipanggil Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Senin (2/2). Sekretaris panitia SPA sekaligus pengguna anggaran ini kembali diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka. Namun karena alasan sakit, pemeriksaan terhadap mantan Plt Sekda Kota Semarang tersebut batal dilakukan.

Tersangka Harini masuk kantor Kejari Semarang sekitar 10.45 lewat pintu depan. Namun selang setengah jam, dia keluar lewat pintu belakang. Dengan berjalan cepat, Harini langsung memasuki mobilnya.

Kasi Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejari Semarang, Arifin Arsyad, mengatakan, tersangka datang didampingi penasihat hukumnya, Sayuto SH. Namun saat penyidik akan mulai melakukan pemeriksaan, yang bersangkutan mengeluh kurang sehat. ”Beliau (Harini) mengeluh sedang sakit. Sakitnya apa, saya tidak tahu,” katanya kepada Radar Semarang.

Arifin menambahkan, tersangka menyampaikan keluhannya langsung kepada penyidik. ”Penyidik meminta ke beliau (Harini) untuk memberikan surat keterangan dokter. Beliau (Harini) tadi juga sempat lewat sekilas di ruang saya,” ujarnya

Untuk rencana pemanggilan ulang, Arifin mengaku akan terlebih dahulu melihat surat keterangan dokter dari tersangka. ”Saya belum dapat laporan dari penyidik apakah surat keterangan dokter sudah diberikan atau belum. Nanti saya cek dulu. Pemanggilan ulang kita lihat berapa lama beliau harus beristirahat karena sakit,” katanya.

Arifin menuturkan, sampai saat ini Harini masih kooperatif ketika diminta hadir dalam pemeriksaan. ”Beliau (Harini) kooperatif sekali ketika penyidik meminta hadir dari awal tahap penyidikan sampai sudah ditetapkan menjadi tersangka,” tutur Arifin.

Karena itu, kata dia, Harini belum dilakukan penahanan. Apalagi sebelumnya Harini menegaskan kalau pihaknya akan mengikuti proses hukum yang ada. ”Biarkan proses hukum berjalan Mas,” kata Harini.

Pada pemeriksaan kali pertama lalu, perempuan yang pernah menjadi calon wali kota ini sempat membantah adanya dobel anggaran program SPA. Ia hanya tertawa ketika ditanya apakah dirinya merasa menjadi korban dalam kasus tersebut. ”Di catatan saya tidak ada dobel anggaran. Hahahaha,” jawab Harini sambil tertawa.

Atas perbuatannya, tersangka bakal dijerat pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 jo pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dan diperbarui Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (mg21/aro/ce1)