Prihatin Konflik KPK-POLRI, Warga Gelar Ruwatan

205
PRIHATIN : Warga menggelar ruwatan dan doa bersama sambil mengarak bubur merah putih untuk keselamatan KPK dan Polri serta selamatnya Indonesia di Rumah Joglo Pasekaran, kemarin. (MAHFUDZ ALIMIN/RADAR SEMARANG)
PRIHATIN : Warga menggelar ruwatan dan doa bersama sambil mengarak bubur merah putih untuk keselamatan KPK dan Polri serta selamatnya Indonesia di Rumah Joglo Pasekaran, kemarin. (MAHFUDZ ALIMIN/RADAR SEMARANG)
PRIHATIN : Warga menggelar ruwatan dan doa bersama sambil mengarak bubur merah putih untuk keselamatan KPK dan Polri serta selamatnya Indonesia di Rumah Joglo Pasekaran, kemarin. (MAHFUDZ ALIMIN/RADAR SEMARANG)

BATANG–Ruwatan yang pada umumnya dilakukan untuk menyambut masa panen dan sedekah bumi, Senin (2/1) kemarin, digelar untuk mendoakan KPK-Polri agar segera mengakhiri perseteruannya. Mereka yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat Batang, berkumpul di Rumah Joglo Pasekaran di Kelurahan Pasekaran, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.

Mereka membuat bubur merah dan putih yang ditata bersama buah rambutan di atas tampah bambu yang dihiasi dengan kerajinan jamur. Lantas diarak mengitari Rumah Joglo Pasekaran, sembari membaca sholawat Nabi Muhammad SAW.

Aksi tersebut dilanjutkan dengan memanjatkan doa bersama yang dikhususkan untuk keselamatan KPK-Polri. Usai berdoa, bubur dan buah tersebut dibagikan kepada warga yang hadir.

Robi’ah, 45, warga Desa Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, mengatakan bahwa dirinya mengaku khawatir dengan masa depan negeri Indonesia jika pimpinannya terus berseteru. Ia berharap agar kedua belah pihak saling bahu-membahu memberantas korupsi. “Saya hanya bisa mendoakan, agar mereka bahu-membahu memberantas korupsi, bukan saling tidak akur begini,” kata salah satu warga.

Menurutnya, dengan mengarak bubur merah putih, memiliki nilai falsafah yang dalam sekali. Sebagaimana makhluk hidup yang terdiri atas unsur jiwa dan raga, atau darah dan tulang. “Ini kami analogikan ke dalam sebuah warna dalam bubur merah dan putih,” kata Handoko, Ketua Omah Tani Kabupaten Batang.

Dari perumpaan tersebut, ia juga menjelaskan agar kedua belah pihak dapat bersatu kembali sebagaimana bersatunya jiwa dan raga. Agar jauh dari perpecahan yang berpeluang ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik. “Adanya perseteruan ini, sangat berpotensi ditunggangi kepentingan politik. Kalau sudah demikian, kebenaran hukum jelas akan dikesampingkan,” kata Handoko.

Agus Condro, salah seorang tokoh masyarakat di Batang juga menyampaikan keprihatinannya atas polemik KPK-Polri. Ia juga kecewa adanya aktor politik yang menggunakan penegak hukum sebagai media pencitraan. “Tidak hanya KPK-Polri, tapi juga Kejaksaan Agung (Kejagung). Namun kami jauh dari tokoh pengambil kebijakan, sehingga kami hanya bisa berdoa. Semoga ke depan tidak ada lagi yang menggunakan penegak hukum sebagai alat pencitraan,” kata mantan anggota DPP PDIP ini.

Masih kata, Agus Condro, Presiden Jokowi harus segera mengambil sikap menyelesaikan perseteruan ini agar tidak berkepanjangan. Sebab akan berdampak kepercayaan masyarkat kepada pemerintahan. “Presiden harus memutuskan, entah itu keputusannya. Sebagaimana perseteruan ini muncul, karena presiden sendiri yang memulainya,” pungkasnya. (mg12/ida)