Layanan RS Harus Diperbaiki

162

SEMARANG – Tingginya angka kematian ibu (AKI) di Jawa Tengah yang mencapai 711 kasus pada 2014 menjadi bahan evaluasi untuk mencari solusi. Salah satunya dengan memperbaiki akses dan mutu rumah sakit umum daerah (RSUD) dalam memberikan layanan. Selain itu, perbaikan sistem rujukan mutlak dilakukan.

”Secepatnya kami akan turun untuk melakukan scanning issue. Tujuannya untuk pendekataan, pemerataan, dan keadilan untuk memperbaiki sistem rujukan,” ungkap Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (Arsada) Kuntjoro Adi Purjanto usai bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di ruang kerja Gubernur, Senin (2/2).
Kuntjoro menjelaskan, terkait penanganan kasus tingginya AKI seharusnya sudah ter-mapping dengan betul. Dalam hal ini, semua pihak termasuk RT harus mengetahui jika di lingkungannya ada yang melahirkan. Oleh sebab itu, mereka telah siap dengan segala kondisi yang ada. ”Hal ini dibutuhkan peran kepala daerah dalam pengorganisasian perangkat daerah pelaksana urusan kesehatan,” terangnya.

Apa yang dilakukan oleh Gubernur Jateng, lanjut Kuntjoro, sudah baik. Yaitu dengan menginstruksikan interkoneksi antara rumah sakit dan Puskesmas. Hanya saja langkah itu sudah diaplikasikan di tempat lain atau tidak. ”Diharapkan Jawa Tengah ini menjadi model untuk daerah lain,” imbuhnya.

Sebagai pengurus Arsada, Kuntjoro mengaku akan terus melakukan advokasi dan mendampingi semua RSUD dalam penyusunan aturan regulasi di tingkat pusat. Sehingga ke depannya kualitas pelayanan rumah sakit terus meningkat. ”Kita juga punya tim khusus yang menangani JKN (jaminan kesehatan nasional),” pungkasnya.

Seperti diketahui, AKI dan angka kematian bayi (AKB) di Jawa Tengah dinilai cukup tinggi. Pada tahun 2014, tercatat ada 711 kasus kematian ibu dan 5.666 kematian bayi selama proses persalinan. Anehnya, sebagian besar kasus tersebut justru terjadi di rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo menjelaskan, ada sejumlah faktor utama yang menjadi penyebabnya. Di antaranya adalah masih belum meratanya dokter spesialis kandungan yang tersebar di Jawa Tengah. Dari 204 dokter kandungan yang ada, 72 dokter bertugas di Kota Semarang. Ironisnya, masing-masing dokter diketahui masih nyambi di 3-4 rumah sakit. ”Idealnya satu dokter hanya fokus pada satu tempat atau maksimal dua tempat. Mereka harus konsentrasi penuh selama 24 jam,” imbuhnya.

Atas hal itu, dia mengharapkan partipasi aktif dari ahli kesehatan lainnya untuk membantu selama proses persalinan. Menurutnya, Jawa Tengah memiliki hampir 60 akademi kesehatan. Jika lulusannya dilibatkan dalam pemeriksaan kesehatan ibu sebelum melahirkan, tentu jumlah kematian ibu dan anak akan berkurang. ”Sehingga keprofesionalan pelayanan kesehatan menjadi maksimal,” tandasnya. (fai/ric/ce1)