TAAT LALU LINTAS: Papan peringatan yang dipasang di setiap sudut kampung Pandean Lamper RW 10. (kanan) Lukman Muhacir, Ketua RW 10. (DOK. LUKMAN MUHACIR)
TAAT LALU LINTAS: Papan peringatan yang dipasang di setiap sudut kampung Pandean Lamper RW 10. (kanan) Lukman Muhacir, Ketua RW 10. (DOK. LUKMAN MUHACIR)
TAAT LALU LINTAS: Papan peringatan yang dipasang di setiap sudut kampung Pandean Lamper RW 10. (kanan) Lukman Muhacir, Ketua RW 10. (DOK. LUKMAN MUHACIR)

Kelurahan Pandean Lamper RW 10, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang menjadi kampung safety riding pertama di Indonesia. Apa yang beda dengan kampung lainnya?

TAAT LALU LINTAS: Papan peringatan yang dipasang di setiap sudut kampung Pandean Lamper RW 10. (kanan) Lukman Muhacir, Ketua RW 10. (DOK. LUKMAN MUHACIR)
TAAT LALU LINTAS: Papan peringatan yang dipasang di setiap sudut kampung Pandean Lamper RW 10. (kanan) Lukman Muhacir, Ketua RW 10. (DOK. LUKMAN MUHACIR)

JOKO SUSANTO, Pandean Lamper

BERKENDARA motor atau mobil di perkampungan sering dianggap remeh, sehingga banyak yang melanggar ketertiban lalu lintas. Ujung-ujungnya kerap terjadi kecelakaan lalu lintas di dalam kampung. Namun tidak begitu dengan warga Kelurahan Pandean Lamper RW 10, Kecamatan Gayamsari, Semarang. Karena di kampung ini sudah menerapkan program safety riding atau berkendara yang aman.

Sejumlah papan peringatan dan rambu-rambu lalu lintas terpasang di setiap perempatan dan pertigaan jalan kampung. Di antaranya bertuliskan: Jauh Dekat Gunakan Helm SNI, Kecepatan Maksimal di Kampung 20 Km/Jam, 17 Tahun Batas Minimal Umur Berkendara Motor, Pejalan Menghadap Arah Depan Kendaraan, Hati-Hati di Jalan Keluarga Menunggu, serta Ingat Keluarga Setiap Anda Ngebut. Papan peringatan itu sudah tampak mulai pintu masuk kampung dari arah Jalan Gajah Raya, Jalan Kelinci dan Jalan Bintoro.

Ketua RW 10 Kelurahan Pandean Lamper, Lukman Muhacir mengaku, memiliki ide mendirikan kampung safety riding sekitar 2011. Waktu itu, ia diundang dalam acara seminar di Universitas Semarang (USM) mengenai safety riding. ”Dari acara itu, saya terinspirasi ingin mengaplikasikan. Apalagi pasca dipasangnya traffic light di perempatan Gajah Raya-Medoho, yang merupakan pintu masuk kampung saya, menyebabkan sering terjadi kecelakaan,” kata Lukman kepada Radar Semarang.

Ide itu pun disampaikan kepada warganya dalam pertemuan sebulan sekali. Ternyata warga menyetujuinya, apalagi wilayah RW 10 saat ini kerap menjadi jalan pintas pengendara motor dan mobil, sehingga lalu lintasnya menjadi sangat ramai. Dengan berprinsip ”berpikir besar dari hal terkecil dan bergerak cepat” demi terwujudnya tertib lalu lintas, Lukman bersama warganya pun langsung action. ”Tujuan kampung safety riding ini untuk mengurangi angka kecelakaan dan menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas sebagai kebutuhan. Big think of it smallest and fast moving diharapkan dari hal terkecil itu,” ujarnya.

Maka sejak 2011, gerakan safety riding pun dikampanyekan di kampung ini. RW 10 sendiri terdiri atas 9 RT dengan jumlah penduduk 572 KK atau 1.418 jiwa. Hampir 90 persen warga memiliki kendaraan bermotor minimal satu unit. ”Sebelum program ini benar-benar diterapkan, kami terlebih dahulu melakukan edukasi dan sosialisasi. Sedangkan penerapan sanksi baru dilakukan sejak 2013,” jelasnya.

Adapun sanksi yang diberlakukan kepada internal warganya yang melanggar peraturan lalu lintas meliputi: pertama sanksi teguran I, kedua diberi peringatan, dan ketiga diberi sanksi berupa tidak diberi surat rekomendasi jika mengurus dokumen kependudukan ke kantor kelurahan. Misalnya, mengurus KTP, Kartu Keluarga (KK) maupun akta kelahiran. Sanksi itu sudah menjadi keputusan bersama warga.

”Setiap RT juga menyediakan buku administrasi yang nantinya berisi nama warga yang melanggar aturan lalu lintas. Sanksinya bukan tilang atau penindakan hukum, tapi sanksi moral salah satunya berupa teguran. Sanksi yang paling berat tidak diberi rekomendasi saat mengurus surat atau KTP. Kan kalau mengurus dokumen kependudukan harus lewat Pak Ketua RT. Nah, semua pelanggaran dicatat dalam buku administrasi tersebut. Itu kan sanksi sangat berat,” tegasnya.

Diakuinya, tidak mudah menyadarkan warganya untuk tertib berlalu lintas. Karena itu, ia bersama timnya sesama agen keselamatan berkendara di kampungnya terus mencoba memberikan sosialisasi dan edukasi setiap pertemuan bulanan RT. Sosialisasi juga ke perkumpulan ibu-ibu, karena dianggap dekat dengan anak yang umumnya kerap meremehkan safety saat berkendara. Para ibu diharapkan bisa mengingatkan putra-putrinya saat mengendarai motor.

”Jujur saja, saat saya merintis program ini pada 2011, saya dianggap gila oleh warga. Memang butuh waktu lama untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya keselamatan. Baru setelah tiga tahun, masyarakat mulai sadar, dan akhirnya di 2015 resmi dapat dukungan dari Astra Motor,” jelas Lukman.

Tak hanya itu, untuk tempat sosialisasi dan edukasi tertib berlalu lintas, kampung ini juga tengah membangun posko safety riding. Posko di pertigaan jalan ini berfungsi sebagai sarana edukasi, tempat penindakan, serta pusat informasi dan dan data. Bersama 28 tim yang terdiri atas Lukman, 9 Ketua RT, dan 2 agen keselamatan berkendara yang membantu RT, ia rutin mengevaluasi setiap 6 bulan sekali. Pihaknya menulis siapa yang melanggar dan memberi reward bagi warga yang taat dengan hadiah helm.

Diakui, ada sejumlah kendala dalam mewujudkan kampung safety riding. Di antaranya warga masih belum terbuka mindset (pola pikirnya) tentang budaya tertib berlalu lintas terlebih di tengah kampung. Kendala lainnya, kurangnya tim yang melakukan penindakan yakni Linmas (perlindungan masyarakat), dan pemahaman atau upgrade sumber daya manusia masih kurang tentang lalu lintas.

”Sedangkan yang jadi kendala utama adalah belum adanya payung hukum yang jelas tentang safety riding di kampung. Jadi, orang cenderung mengabaikan, karena menganggap hanya seperti hukum adat,” ungkapnya

Nah, untuk menyadarkan warga untuk taat dengan peraturan lalu lintas, Lukman dan timnya pun banyak memasang rambu-rambu dan papan peringatan di setiap sudut kampung. Setidaknya dengan membaca papan peringatan itu, warga akan lebih hati-hati dalam berkendara.

”Harapan ke depannya ini bisa menjadi contoh untuk kampung lain. Diawali dari kampung, kalau sudah membudaya dan melembaga, nanti di jalan pun warga akan sadar bahwa tertib lalu lintas sebagai kebutuhan. Ini solusi alternatif mengurangi angka kecelakaan di jalan, sebab 80 persen kecelakaan di jalan raya disebabkan oleh kelalaian pengendara,” bebernya

Lukman yang juga menjabat Ketua Forum RT-RW Kelurahan Pandean Lamper yang membawahi 105 RT dan 12 RW berharap, program safety riding tersebut bisa diterapkan di seluruh kampung di Kelurahan Pandean Lamper, bahkan Kota Semarang. ”Awalnya hanya di RW saya, sekrang sudah 45 RT di Pandean Lamper menerapkan program safety riding. Semoga ini akan meluas ke kampung-kampung yang lain,” harapnya. (*/aro/ce1)