Gagal Menikah, Tentara Gadungan Ditangkap

234
DIRINGKUS : Kapolres Semarang, AKBP Muslimin Ahmad meminta Akbar Paputungan yang mengaku anggota TNI untuk menunjukkan barang bukti berupa baju loreng TNI dan aksesori TNI yang digunakan untuk aksi penipuan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DIRINGKUS : Kapolres Semarang, AKBP Muslimin Ahmad meminta Akbar Paputungan yang mengaku anggota TNI untuk menunjukkan barang bukti berupa baju loreng TNI dan aksesori TNI yang digunakan untuk aksi penipuan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DIRINGKUS : Kapolres Semarang, AKBP Muslimin Ahmad meminta Akbar Paputungan yang mengaku anggota TNI untuk menunjukkan barang bukti berupa baju loreng TNI dan aksesori TNI yang digunakan untuk aksi penipuan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Rencana Akbar Paputungan, 23, pemuda asal Desa Anreapi, Polewali Mandar, Sulawesi Barat untuk menikahi gadis berparas cantik bernama Indah Ambarwati, 29, warga Desa Kebondowo, Banyubiru, Ambarawa, pupus sudah. Sebab, aksi Akbar yang mengaku sebagai anggota TNI berpangkat Sersan Kepala berdinas di Yonif 700/Raider terkuak oleh petugas gabungan Koramil 12/Banyubiru dan Polres Semarang.

Petugas berhasil mengungkap bahwa Akbar ternyata hanya seorang Satpam di sebuah pertambangan di Kalimantan. Polisi menyita barang bukti berupa pakaian loreng, borgol, sangkur, sepatu lars, serta pisau berbentuk pistol.

Sementara itu, korbannya Indah yang bekerja di sebuah perusahaan valas di Pekanbaru melaporkan pacarnya itu ke Polsek Banyubiru. Sebab korban merasa dirugikan oleh tersangka. Tersangka membawa kabur barang-barang pribadi miliknya seperti 1 unit tablet merek IMO, 1 handphone Samsung, dan 1 Evercross dan serta uang tunai dengan total kerugian mencapai Rp 5 juta.

Kasus penipuan tersebut berawal dari perkenalan tersangka dengan korban sekitar November 2014 melalui akun Facebook. Dalam akun Facebook tersangka mengaku anggota TNI. Perkenalan dari dunia maya itu membuat Indah terlena sehingga percaya ketika tersangka mengaku sebagai anggota TNI. Bahkan tersangka berjanji akan menikahi korban.

“Saya janjian untuk bertemu dengan korban dan keluarganya, tapi saya minta ditransfer uang Rp 1,5 juta untuk ongkos naik pesawat dari Kalimantan ke Pekanbaru. Sebab korban tinggal di Pekanbaru. Sampai di Pekanbaru, kami tinggal di rumah kontrakan selama dua bulan. Selama dikontrakan, uang dan barang-barang dia, saya pinjam dan jual. Total uang yang saya pakai untuk biaya hidup dengan dia Rp 5 juta,” kata Akbar, Senin (2/2) kemarin dalam ekspose kasus di Mapolres Semarang.

Korban kemudian mendesak tersangka untuk bersama-sama pulang ke Jawa, 13 Januari 2015 lalu. Tujuannya, berkenalan dengan orangtua korban dan meminta restu untuk menikah. Keluarga korban curiga dengan tersangka. Sebab selama dua pecan, tersangka tidak ngantor. Kecurigaan itu kemudian dilaporkan ke Koramil Banyubiru dan Polsek Banyubiru. Anggota TNI dan Polsek kemudian melakukan penyelidikan. Akhirnya terungkap, tersangka adalah anggota TNI gadungan.

“Rencananya kami akan menikah. Tapi akhirnya ada intelijen dari Koramil masuk dan menangkap saya, komandan,” kata tersangka Akbar menjawab pertanyaan Kapolres Semarang, AKBP Muslimin Ahmad.

Kapolres Semarang, AKBP Muslimin Ahmad mengatakan, terungkapnya kasus tersebut dari kecurigaan keluarga korban. Sebab tersangka meminta uang korban dengan alasan yang mengada-ada. Selanjutnya keluarga melaporkan kasus tersebut. “Setelah ada laporan, kami langsung menindaklanjuti bersama dengan Koramil setempat. Kami menangkapnya tanpa ada perlawanan,” kata Kapolres. (tyo/ida)