MELAPOR: Hs dan Sw melapor ke SPKT Polres Kendal atas dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya DA, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MELAPOR: Hs dan Sw melapor ke SPKT Polres Kendal atas dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya DA, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MELAPOR: Hs dan Sw melapor ke SPKT Polres Kendal atas dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya DA, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Ini bisa dijadikan pelajaran, agar orangtua lebih berhati-hati dalam menjaga buah hatinya. Jangan sampai mengalami nasib nahas seperti DA, warga Kecamatan Kaliwungu. Betapa tidak, bocah TK ini menjadi korban pemerkosaan. Parahnya yang melakukan adalah pamannya sendiri yakni Bk. Kepada orang tuanya, korban dengan polos mengaku pernah diajak berhubungan layaknya suami-istri, oral sexs dan disodomi Bk. Parahnya kejadian biadab itu sudah dilakukan berkali-kali oleh Bk. Tidak terika, akhirnya kedua orangtua korban melaporkan kasus itu ke Polres Kendal.

Pelaku dengan mudah melakukan aksi itu, karena ibu korban bekerja di Hongkong sebagai TKI. Sedangkan ayah korban jarang di rumah karena pekerjaanya menjadi anak buah kapal (ABK) di sebuah perusahaan perkapalaan di Kalimantan. Korban selama ini tinggal di rumah neneknya, SN di Kecamatan Kaliwungu.

Aksi ini terungkap ketika sang ibu korban, Hs dari Hongkong akhir desember lalu. Naluri sang ibu curiga, melihat prilaku anaknya yang tidak wajar. Sebab korban kerap memperagakan adegan seks di hadapannya di tempat tidur sembari menonton handphone yang terdapat video porno. Penasaran, ibu korban akhirnya bertanya tentang sikap sang buah hati tersebut. Kedua orangtuanya bertanya siapa yang mengajarinya bertingkah seperti artis video porno. Dengan polos, korban mengaku diajari pamannya Bk, yang tidak lain adalah kakak ipar ayah korban. “Anak saya bercerita, jika ia sering diajak nonton video porno di HP. Ia pernah diperlihatkan film mas dan mbak yang tidak pakai baju, trus adegannya memasukkan kelamin ke vagina, mulut dan dubur,” kata Hs menirukan pengakuan sang anak, Senin (2/2).

Yang membuat orangtuanya kaget, korban mengaku pernah diperkosa pamannya setidaknya tiga kali. Parahnya, aksi itu dilakukan paman korban yang mestinya menjadi sang pelindung. Kekagetan mereka kian besar, ketika korban bercerita, saat buang air bersar duburnya mengeluarkan cairan lender. Korban juga pernah diajak nonton video sek mulut kemudian disuruh menirukan adegan dalam video porno tersebut. Yakni kemaluan Bk dimasukkan ke mulut korban. “Katanya dia ada lendir masuk ke mulutnya dan membuatnya sampai muntah-muntah,” imbunya.

Bak disambar petir ketika dengan polos korban menceritakan apa yang dialami kepada orangtuanya tersebut. Masih belum percaya, Hs dan suaminya lantas membawa korban untuk visum di RSUD Dr Soewondo Kendal. Ternyata dari hasil visum, selaput dara anak saya masih wutuh. Tapi setelah diperiksakan di Puskesmas Kecamatan Brangsong, ternyata selaput dara sudah rusak. “Awalnya saya melaporkan kejadian ini ke Polres Kendal, awal tahun lalu, tapi diminta visum dulu. Tapi saya sanksi dengan hasil visum di RS karena hasilnya tidak terjadi ada apa-apa. Hari ini (kemarin, Red) saya cek lagi di Puskesmas Brangsong ternyata selaputnya robek. Hasil ini akan saya jadikan dasar laporan ke polisi kembali,” tambahnya.

Kepala Tata Usaha Puskesmas Brangsong, Satriyo menyampaikan bahwa pihaknya hanya melakukan pengecekan terhadap korban, bukan visum. “Karena ada keterangan dari orang tua korban, kami melakukan cek terhadap korban. Kami temukan selaput dara sudah robek,” ujarnya. Kendati demikian, pihaknya tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada korban. Sebab luka robek selaput dara korban sudah sangat lama, dan kemungkinan memang sudah berulang kali dilakukan berulangkali oleh korban. “Sehingga lukanya tidak nampak,” tambahnya.

Selain itu, memang kejadian dengan terungkapnya pengakuan anak rentan waktunya sudah cukup lama. Bahkan orang tua baru mengetahui adanya dugaan kekerasan seksual sekitar empat bulan lalu. “Jadi, kami agak kesulitan untuk mendeteksi apakah ada kekerasan atau tidak. Yang jelas memang selaput vagina sudah robek,” tambahnya. Setelah mendapat keterangan tersebut, Hs dan suami Sw meneruskan laporan tersebut bagian unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kendal sebelum akhirnya melaporkan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kendal. “Kami berharap kasus ini segera ditangani dan pelaku bisa mendapatkan hukuman setimpal,” kata ayah korban, SW. (bud/fth)