BERHIAS: Suasana sudut Kampung Bustaman yang dihias dengan replika capung karya warga. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
BERHIAS: Suasana sudut Kampung Bustaman yang dihias dengan replika capung karya warga. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
BERHIAS: Suasana sudut Kampung Bustaman yang dihias dengan replika capung karya warga. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

Kampung Bustaman, Purwodinatan memang unik. Di tengah perkampungan padat itu ternyata menyimpan banyak seni budaya. Selama 2 minggu warga setempat menggelar event Tengok Kampung Bustaman. Seperti apa?

M. HARIYANTO

KAMPUNG Bustaman terletak di wilayah Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah. Pendiri kampung ini bernama Kiai Bustam yang hidup pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Petilasan Kiai Bustam hingga kini masih ada. Lahan yang dulu menjadi tempat tinggal Kiai Bustam kini ditempati salah satu keturunannya, yakni Sri Hartati, 60. Rumah itu dulunya adalah hadiah dari Belanda kepada Kiai Bustam. Kiai Bustam sendiri masih memiliki silsilah keturunan dengan Raden Patah dari Kerajaan Demak.

”Kami bersama warga ingin melestarikan kampung asli kami agar tidak dicaplok oleh penguasa maupun orang berduit. Lihat saja banyak kampung di Kota Semarang yang hilang tergusur dan berganti bangunan kokoh menjulang tinggi seperti mal, swalayan, dan hotel,” ungkap tokoh masyarakat Kampung Bustaman, Ashar kepada Radar Semarang, Minggu, (1/2) kemarin.
Meski hidup di tengah bangunan superpadat, warga Bustaman selalu menjaga kerukunan dan melestarikan tradisi. Kampung ini juga selalu aktif 24 jam dalam aktivitas perdagangan, yang hampir seluruhnya berbahan mentah daging kambing.

Kampung unik ini juga menggelar tradisi Tengok Kampung Bustaman setiap dua tahun sekali sejak 2013. Tahun ini, merupakan pergelaran yang kali kedua. Tradisi ini dimeriahkan aktivitas warga yang menyediakan menu kuliner khas Bustaman seperti gulai, bestik, tongseng, sate dan aneka jajanan tradisional.

Pada event 2013 lalu, acara Tengok Kampung Bustaman bersamaan hajat khitanan. Sedangkan pada tahun ini, bersamaan dengan acara hajat pernikahan. Uniknya, yang menjadi cucuk lampah pada iring-ringan pernikahan, sepasang kambing berjalan paling depan dipandu warga, yang dimeriahkan tabuhan rebana.

Dijelaskan, acara Tengok Kampung Bustaman dilakukan oleh warga RT 4 dan RT 5 yang berjumlah 80 KK. Event ini berlangsung dua minggu. Selain diisi wisata kuliner, juga digelar kegiatan seni dan budaya. Selain itu, pada Jumat-Minggu (6-8/2) mendatang akan diadakan pemadaman lampu saat melakukan aktivitas berdagang. Kegiatannya bertajuk ”kuliner petengan menyambut hujan.”

”Sehabis magrib, semua lampu di kampung ini dipadamkan. Ini mengisahkan pada zaman Belanda dulu melakukan aktivitas di malam hari hanya pakai teplok dan sentir. Jadi, kegiatan ini mengibaratkan seperti itu,” katanya.

Ashar membeberkan dalam event Tengok Kampung Bustaman juga dimeriahkan pentas teater wong Bustaman dengan kisah kebersahajaan sehari-hari. Dimainkan oleh warga di sepanjang lorong. Dilanjutkan pergelaran musik komunitas jazz dan blues Semarang dan Jogja.

Selain itu, juga digelar lomba foto sudut Bustaman. Lomba yang terbuka untuk umum ini mengambil objek semua sudut kampung dengan suasana dan aktivitas warga sepanjang hari selama festival berlangsung.

”Pemotretan bisa menggunakan kamera HP. 10 karya terbaik akan dipajang di festival Kampung Bustaman 12-15 Februari. Setelah dipilih tim juri, 1 karya terbaik akan mendapatkan hadiah satu ekor kambing, dan 3 karya favorit akan mendapat voucher makan gratis selama 5 hari di seluruh lapak makan dan warung sembako di Bustaman,” jelasnya.

Rangkaian acara Tengok Kampung Bustaman lainnya adalah ”festival olahan daging kambing” yang digelar 14-15 Februari pukul 09.00. Secara kolektif, warga Bustaman akan menyajikan segala jenis olahan dari bahan daging kambing. Ini menjadi kesempatan masyarakat menikmati menu asli dari Bustaman dengan penyajian khas. ”Dengan tarif wong kampung, pengunjung dapat memilih menu sesuai selera. Bagi yang tidak makan daging kambing disediakan menu pengganti yang tidak kalah lezatnya,” katanya.

Ashar menambahkan, selain bisa menikmati menu kuliner serta suguhan seni dan budaya, pengunjung bisa melihat bangunan asli warga Bustaman. Bangunan rumah kecil-kecil yang saling berimpitan itu dinamakan Gedong Sepuluh. Penghuni rumah itu merupakan warga asli kampung tersebut. Jumlahnya lebih dari 10 KK. ”Meski saling berimpitan dan berdesakan, mereka tidak pernah cekcok. Selalu hidup rukun, gotong royong dan menjaga persaudaraan. Inilah yang membuat kampung kecil ini selalu ingin kami jaga supaya kelestarian peninggalan Kiai Bustam tetap terjaga dan kampung ini tidak punah,” harapnya. (*/aro/ce1)