BANTUAN BIBIT : Praktisi Pertanian, Nur Jatmiko menyerahkan bibit Albasia Solomon atau Sengon Laut kepada ratusan warga Pabelan. Nur Jatmiko juga mengajarkan para petani cara menanam Sengon Laut yang benar. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BANTUAN BIBIT : Praktisi Pertanian, Nur Jatmiko menyerahkan bibit Albasia Solomon atau Sengon Laut kepada ratusan warga Pabelan. Nur Jatmiko juga mengajarkan para petani cara menanam Sengon Laut yang benar. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BANTUAN BIBIT : Praktisi Pertanian, Nur Jatmiko menyerahkan bibit Albasia Solomon atau Sengon Laut kepada ratusan warga Pabelan. Nur Jatmiko juga mengajarkan para petani cara menanam Sengon Laut yang benar. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Banyak petani di Kabupaten Semarang yang kehidupannya masih pas-pasan, meski Kabupaten Semarang memiliki lahan yang luas dan subur. Paling memprihatinkan adalah petani di Bumi Serasi ini tertinggal jauh dengan petani dari luar. Belum lagi, ketika digempur pasar global dengan masuknya produk pertanian dari luar negeri.

Praktisi Pertanian, Nur Jatmiko yang tinggal di Lingkungan Bugisan, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang mengatakan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan petani harus diawali dari kebijakan Pemkab Semarang yang tepat sasaran. Misalnya memberikan pola penyuluhan yang tepat. Yakni, mengatur pola tanam serta mengarahkan agar petani tidak menggunakan pola tanam kapitalis yakni membeli seluruh bibit dan pupuk. Namun diusahakan agar petani ndeder (membuat) bibit dan pupuk organik sendiri.

“Banyak penyuluh lapangan yang nyambi berjualan obat. Mengarahkan petani menggunakan obat kimia yang kelak merugikan petani karena tanahnya menjadi rusak,” kata Nur Jatmiko yang pernah belajar pertanian di Sekolah Pertanian Menengah Atas Ambarawa tersebut, Minggu (1/2) kemarin.

Selain itu, kata Nur Jatmiko, pemerintah harus mengatur tata niaga pertanian, termasuk membantu memasarkan produk pertanian. Misalnya membentuk Perusahaan Daerah (Perusda) bidang pertanian untuk menyerap hasil produksi pertanian. Perusda tersebut yang nantinya memasarkan di toko modern hingga keluar daerah. Perusda itu yang bekerjasama dengan Koperasi Unit Desa (KUD) di tingkat desa untuk menyerap hasil pertanian dan membantu permodalan.

“Gagasan saya, agar petani maju dan sejahtera termasuk membuat Perusda Bidang Pertanian. Sebab, pemerintah harus menjadi marketingnya petani, melalui Perusda itu. Saat ini, di Kabupaten Semarang belum ada,” imbuh Nur Jatmiko yang juga berbisnis konstruksi tingkat nasional.

Nur Jatmiko mencontohkan bahwa dirinya sudah lama membina Koperasi Unggul Lestari sebagai usaha kemitraan dengan petani yang menyerap hasil pertanian berupa Kayu Sengon atau Albasia Solomon. Bahkan akhir pekan lalu, Nur Jatmiko menggandeng perusahaan PT Sumber Graha Sejahtera (SGS) dan PT Makmur Alam Sentoso menyalurkan 500.000 bibit Albasia Solomon untuk kelompok tani hutan rakyat di Kecamatan Pabelan. Bibit yang dibagikan gratis kepada petani tersebut diharapkan dalam 5 tahun ke depan sudah dapat dipanen, sehingga petani dapat menikmati hasilnya.

“Supaya petani tidak merasa tersendirikan, harus ada pendampingan. Sebenarnya ini perannya pemerintah. Seperti bibit yang disalurkan akan ditanam para petani, selanjutnya kayu-kayunya akan dibeli koperasi yang saya bina dan disalurkan ke perusahaan mitra tersebut. Jadi petani punya wadah membuang produknya. Kami inilah yang menjadi tukang tadah produk petani,” kata Nur Jatmiko yang getol menularkan ilmu pertaniannya.

Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Semarang, Waliyanto, mengaku memang perlu ada pendampingan untuk petani, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Seperti bantuan bibit Sengon tersebut akan dapat meningkatkan penghasilan petani. “Selain dapat hasil dari kayu Sengonnya, juga dapat hasil dari tanaman di bawahnya dengan sistem tumpangsari,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Pendamping Pertanian, PT SGS, Slamet Teguh mengatakan, pihaknya sudah 10 tahun melakukan pendampingan tujuannya untuk memberikan manfaatkan pada para petani berupa bibit. Sedangkan cara penanaman dan memelihara yang baik, tentunya menjadi peran pemerintah untuk memberikan pembinaan.

“Jadi memang dibutuhkan peran pemerintah agar meningkatkan produksi pertanian. Hasil produksi petani berupa kayu Sengon ini nantinya akan diambil oleh koperasi dan disalurkan ke perusahaan kayu untuk membuat kayu lapis,” kata Slamet Teguh disela-sela penyaluran bibit. (tyo/adv/ida)